Dari Diskusi Buku Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu

Dalam cerpen ini, sosok gajah digambarkan sebagai tokoh sentral yang merepresentasikan kekuatan, kebijaksanaan, sekaligus tragedi. Gajah bukan sekadar satwa, tetapi simbol peradaban yang terluka akibat kerusakan ekologis.

Peserta diskusi menilai bahwa kisah ini menghadirkan metafora yang kuat, di mana gajah menjadi cermin perjalanan manusia itu sendiri—agung, tetapi juga rapuh.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Alur cerita yang bergerak lambat namun penuh intensitas dianggap menambah kedalaman diskusi. Narasi yang mengikuti langkah gajah menciptakan pengalaman mendalam bagi pembaca. Akhir cerita yang tragis dipandang bukan hanya menyedihkan, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang keterhubungan manusia dengan makhluk hidup lain.

Gaya bahasa Sasti Gotama turut menjadi sorotan. Kalimat-kalimatnya disebut mengalir seperti mantera dengan kekuatan puitis yang mampu mengguncang batin. Simbolisme kupu-kupu ditafsirkan sebagai lambang kefanaan dan keindahan yang rapuh, sedangkan gajah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah manusia. Nuansa bahasa yang kaya membuat cerpen ini menjadi sebuah pengalaman estetik dan kontemplatif.

Nilai sosial dan ekologis yang terkandung dalam cerpen penulisan kelahiran Malang ini juga dibahas. Peserta menilai karya ini relevan dengan isu kontemporer seperti konflik lahan, penggundulan hutan, dan ancaman kepunahan satwa. Cerpen ini tidak hanya mengangkat tragedi ekologis, tetapi juga menyuarakan kritik sosial terhadap keserakahan dan hilangnya kearifan lokal.

Tinggalkan Balasan