Buku berjudul Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu tidak hanya mengangkat tragedi ekologis, tetapi juga menyuarakan kritik sosial terhadap keserakahan dan hilangnya kearifan lokal.
Penegasan itulah yang mengemuka dalam diskusi buku kumpulan cerpen karya Sasti Gotama Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu di Al-Zastrouw Library, Serua, Depok, Jawa Barat, Sabtu (20/9/2205) sore.

Diskusi buku ini merupakan bagian dari rangkaian kembali menjadi pusat kegiatan Semaan Puisi dan Haul Sastrawan yang akan berlangsung hingga akhir Oktober mendatang.
Diskusi yang dipandu oleh Andy Lesmana dan menghadirkan Mahwi Air Tawar sebagai pembicara utama ini berlangsung dalam suasana hangat. Partisipasi aktif dari masyarakat, pecinta sastra, dan anggota Karang Taruna menunjukkan bahwa acara ini bukan sekadar diskusi buku, melainkan sebuah perayaan akan hidupnya tradisi literasi di tengah masyarakat.
Mahwi Air Tawar mengawali penyampaian materi dengan gaya story telling yang memukau, membuat peserta larut dalam ceritanya. Ia memaparkan latar belakang cerpen Sasti Gotama, yang ditulis sebagai refleksi atas hubungan manusia, alam, dan sejarah. Bukit kupu-kupu tidak hanya berfungsi sebagai latar tempat, melainkan simbol ruang ingatan, konflik, dan harapan yang menyatu.
