Dari Misteri Pergantian Malam dan Siang

Sejak abad ke-17, para astrofisikawan, dengan bantuan teleskop, bisa mengamati langit dan objek-objek yang ada di sana dengan lebih seksama, melahirkan teori-teori baru tentang jagat raya serta pertanyaan-pertanyaan baru yang sebagian masih belum terjawab hingga sekarang.

Mengapa langit selalu gelap? Dalam gelapnya langit, mengapa ada pergantian malam dan siang di Bumi? Berabad-abad para ilmuwan berdebat: “Apakah jagat raya ini ada dengan sendirinya, ataukah ada penciptanya?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah kemunduran berturut-turut Yunani, Romawi, dan Persia, Kekhalifahan Abbasiyah meneruskan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dunia, yang mencapai puncaknya pada masa pemerintahan khalifah kelima, Harun al-Rasyid (786 – 803 M). Dalam kurun waktu sekitar 500 tahun, Baghdad menjadi pusat iptek dunia. Al-Khawarizmi menemukan angka nol dan memperoleh julukan Bapak Aljabar. Abu Ishaq az-Zarqali merumuskan teori bahwa orbit planet adalah lintasan eliptik, bukan sirkular. Ibnu Bajjah mengemukakan teori adanya Galaksi Bimasakti. Al-Kisai sang ahli bahasa, Ibnu Khardazah sang ahli geografi, Ar-Razi menulis buku kedokteran “al-Hawi”, Ibnu Sina sang Bapak Kedokteran, Jabir bin Hayyan sang Bapak Kimia, Ibnu Batutah dan Ibnu Khaldun sang ahli Ilmu Sejarah, Al Gazali, dan Abu Hasan al-Asy’ari serta masih banyak lagi ilmuwan-ilmuwan yang lain.

Pengepungan Baghdad pada 1258 M oleh Bangsa Mongol menandai pergeseran pusat iptek dunia dari Baghdad ke Eropa. Namun demikian, pada pertengahan abad ke-15, dalam masa pemerintahan khalifah ketujuh Dinasti Ottoman (Turki Utsmani) Mehmet II atau Muhammad al-Fatih, para ilmuwan dan teknolog Ottoman melakukan riset metalurgi tingkat tinggi yang berhasil melahirkan meriam terbesar di dunia, Meriam Basilika. Meriam Basilika digunakan untuk menembak tembok kokoh Konstantinopel, berhasil meruntuhkannya, menandai jatuhnya Byzantium Timur ke dalam kekuasaan Dinasti Turki Utsmani.

Setelah lengsernya Khalifah Al-Fatih, elite-elite penguasa di lingkaran dalam Dinasti Ottoman terlibat perselisihan dan pertikaian yang panjang sehingga kemajuan iptek yang telah dicapai terbengkelai dan perlahan-lahan mengalami kemunduran. Eropa, sekali lagi, mengambil alih dan melanjutkan pengembangan iptek dunia.

Kerajaan atau dewan gereja membangun otoritas untuk memayungi pusat-pusat riset iptek di segenap penjuru Eropa, melahirkan Royal Society of London pada 1660 M yang mendapat piagam dukungan dari Raja Inggris Charles I pada 1662 M, The French Academy of Sciences (Academie des Sciences) yang didirikan pada 1666 oleh Raja Prancis Louis XIV. Humboldt-Universitat zu Berlin, didirikan pada 1810 M oleh Wilhelm von Humboldt, menjadi model rujukan universitas-universitas di Eropa dan Amerika.

Dalam catatan sejarah, kekalahan Kekhalifahan Ottoman melawan blok Britania Raya-Prancis-Rusia dalam Perang Dunia I terutama disebabkan oleh kemajuan iptek mesin-mesin perang blok sekutu, yang sekaligus menandai runtuhnya Kekhalifahan Dinasti Turki Utsmani melalui perjanjian Versailes pada 1919 M.

Tinggalkan Balasan