Primordialisme Kurban
Idul Adha atau hari raya kurban merupakan peringatan mengenang peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim atas mandat Allah untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail. Pesan di balik peristiwa tersebut adalah bagaimana seseorang mesti rela dan ikhlas melakukan apa pun untuk Allah.

Kurban berasal dari kata qaraba-yaqrabu, bermakna mendekat. “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 35). Esensi pendekatan kepada Allah adalah dengan berjihad atau mengorbankan segala hal untuk agama dan kemaslahatan umat.
Dalam kaidah fikih, kurban adalah prosesi penyembelihan hewan ternak seperti; kambing, sapi, dan onta. Hewan ternak sesungguhnya tamsil dari dominasi hawa nafsu dan syahwat. Tamsil segala kesesatan dan keburukan, kebodohan, kedengkian, buruk sangka, kemalasan, ketakaburan, kecintaan pada hal-hal material dan aspek lainnya yang harus disembelih.
Haji dan kurban merupakan deprimordialisasi budaya manusia agar kembali fitri. Berangkat haji berarti proses kembalinya manusia ke asal untuk kembali menjadi Abdullah (hamba Allah, di atas sekadar humanisme), kemudian Khalifatullah (wakil Allah untuk memanajemen sejarah), syukur kemudian Najibullah (mewakili visi-visi), dan Waliyullah (mandataris utama yang diserahi sejumlah kecil rahasia-Nya).
