ibadah haji

Deprimordialisasi Haji dan Kurban

Namun ibadah haji tetap harus diniatkan dan diusahakan oleh setiap muslim sebagai penyempurnaan agama. Kesempatan berhaji adalah peluang untuk menyelenggarakan penjernihan diri kembali. Tercerahkan pada empat tataran: intelektual (objektivitas berpikir), spiritual (kejernihan jiwa, kebersihan hati, ketulusan perasaan, serta kepekaan rohani), mental (ketenteraman, elastisitas dan relaksitas, kedamaian, keseimbangan), serta moral (integritas sosial, kemanusiaan, sikap demokratis).

Deprimordialisasi disimbolkan dalam ibadah ihram. Menuruh Profesor Quraish Shihab, ihram terambil dari kata haram yang dari segi bahasa berarti sesuatu yang terhormat atau terlarang akibat kehormatannya. Allah ingin menunjukan kepada makhluk-Nya bahwa tidak sepanjang hidupnya manusia boleh memelihara kebodohan untuk hanya pernah mencapai tingkat primordialisme hidup.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Manusia harus melepaskan segala aksesori kehidupan seperti popularitas, jabatan, kekayaan, dan lain sebagainya ketika memutuskan melaksanakan ibadah haji. Ihram harus bisa dimaknai sebagai proses hidup bahwa segala hal yang bersifat keduniawian adalah sementara.

Seharusnya haji memiliki ketajaman untuk menyaksikan betapa sejarah kita terlalu bergelimang primordialisme budaya, primordialisme negara dan ras, dan primordialisme yang menerjemahkan dirinya melalui formalitas kekelompokan. Seperti halnya ihram, ibadah haji mengajak manusia untuk kembali sungguh-sungguh menjadi manusia.

Ada orang yang tak pernah punya kesanggupan ekonomi untuk berhaji, tapi kualitas kepribadiannya mencapai tingkat haji. Bahkan ada seseorang yang sudah bertahun-tahun menabung uang untuk naik haji, tapi menjelang berangkat, ia terpanggil untuk menolong keterdesakan darurat ekonomi tetangganya. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang rajin berkali-kali naik haji, tapi kualitas kepribadiannya, mentalitas pribadi, dan moralitas sosialnya tak kunjung haji.

Tinggalkan Balasan