Derita Sang Muazin

“Subhanallah! Mulia sekali!” ucap Eriawan.

“Eh, kenapa istrinya tak pernah diajak jamaah di musala Cak?” penjual roti goreng itu memulai interogasi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kanjeng Nabi menyunnahkan para perempuan salat di rumah dan para lelaki salat di masjid,” jawab Roni mantab.

“Subhanallah! Syar’i sekali,” pekik Eriawan kemudian.

“Terus Cak. Sampean kan kerjaannya berat, buruh cangkul, kadang jadi penggali sumur, kadang penggali kubur. Tapi salat jamaahnya tak pernah telat. Bahkan menjadi muazin permanen. Boleh berbagi resep agar saya juga bisa niru sampean, Cak?”

Roni terdiam lama. Mulutnya yang mengunyah pun berhenti. Eriawan tak berkedip memandang tingkah aktivis musala itu. Dan penjual roti goreng itu semakin terheran-heran melihat dari bola mata pemuda saleh itu menitikkan air mata.

“Perlu sampean tahu Mas Eri. Hidup saya ini semenjak kecil selalu akrab dengan masalah. Terlahir sebagai anak yatim. Di sekolah sering diolok-olok teman karena nyambi jualan donat. Di kelas sering dimarahi guru karena otak saya seolah macet untuk memahami pelajaran. Kata orang, saya ini bodoh. Habis itu cari kerja susah karena ijazah rendah. Mondok tak betah karena tak ada yang membiayai. Lalu hendak nikah lama tak laku-laku karena wajah kurang menjanjikan. Sekarang dapat istri ya gitu. Nggak berani bawa keluar karena malu-maluin, gigi keluar semua. Nah, kalau saya tidak rajin ibadah, kapan semua penderitaan ini akan berakhir jika nanti saya masuk neraka?”

Eriawan tertegun, terharu mendengar jawaban Cak Roni yang kini tiba-tiba tampak begitu dendam dengan seluruh penderitaan-penderitaannya.

2 Replies to “Derita Sang Muazin”

Tinggalkan Balasan