Desa Mistis

Karena tidak ingin mendengar kisruh lagi, Irul mengajakku beranjak. “Sudah, Rip! Ayo ke masjid sebentar lagi azan isya.”

“Jangan ikut-ikut kamu Rul! Bapak bisa menyekolahkanmu rezekinya ya dari Mbah Dul itu,” Pak Lik memeringatkan Irul.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sampai di teras masjid, aku dan Irul melanjutkan mengobrol. Irul bertanya padaku, “Thagut tadi apa, Rip?”

“Thagut adalah segala sesuatu yang dijadikan sembahan selain Allah. Maka, kita sebagai orang beriman harus kuat tauhidnya, harus berpegang teguh. Kalau tidak, timbullah sirik.”

“La, biasanya seperti Mbah Dul itu mengetahui nasib seseorang, tahu barang hilang, mampu sembuhkan orang. Gimana itu, Rip?”

“Wallahua’lam. Kalimat yang benar itu dari setan yang mencuri berita dari langit. Lalu memasukkan ke telinga teman dekatnya, yaitu dukun dan tukang sihir, kemudian dicampur aduk dengan seratus kedustaan.”

“Gitu ya, nyesal aku tidak ke pesantren seperti kamu. Bapakku melarang.”

“Sudah, yang penting jaga imanmu, Rul! Ngomong-ngomong paling genderuwo apalagi tuyul pasti banyak yang nganggur, Rul.”

“Ko bisa, Rip?”

“La sekarang banyak yang nyimpen uang di ATM, semua pakai nontunai, uang elektronik. La tuyulnya belum dapat training pelatihan nyuri di ATM.”

“Iya, ya. Bisa, bisa. Ha-ha-ha….”

“Sekarang kuburan, tempat-tempat sepi sudah ada lampunya. Jadi orang banyak yang tidak takut. Kuburan apa lagi, masih Corona begini. Manusia masih takut lewat kuburan, tapi lebih takut dengan jenazah yang dikira korban Corona. Bahkan ada yang ditolak lo saking takutnya itu,” aku membikin anekdot.

“Ha-ha, guyon saja kamu, Rip. Tuyul, babi ngepet, sekarang pasti kemana-mana pakai masker, bawa hand sanitizer, takut duit yang dicuri ada Coronanya. Kalau missal ada, juragannya kena, bisa di PHK mereka,” Irul menambahkan jokenya.

Aku pun terkekeh. “Ha-ha… benar kamu, Rul!Satu lagi, karena masih Ramadan, para dedemit kan terisolasi, mereka sekarang lagi rapat pakai aplikasi zoom, pesan dupa-sesajen lewat jasa ojol, ikut-ikutan work from home, ha-ha-ha….”

Azan Isya berkumandang, mengingatkan kami untuk berhenti tertawa. Kami pun bersama jemaah lain segera mengikuti tarawih berjamaah. Selesai tarawih, dengan tergopoh Pak Lik Maryoto mendekati kami yang mau pulang.

Tinggalkan Balasan