Desa Mistis

“Mbah Dul meninggal… Mbah Dul… meee…,” ucapan Pak Lik terpotong karena napasnya yang terputus-putus.

“Innalillahi… Ko bisa, Lik. Gimana ceritanya?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kamu tahu sendiri kan. Sudah seminggu aku tidak ke Mbah Dul. Pak Lik panen padi. Ketika itu Mbah Dul menerima pasien sakit. Ternyata pasiennya adalah PDP Corona.”

“Aduh, bisa gawat itu Lik. Bisa-bisa desa kita diisolasi ini,” aku terperangah.

“Semoga saja tidak, Rip. Lalu Mbah Dul bersedia mengobati. Katanya Mbah Dul punya jin yang bisa nyerot, menyedot virus itu dari dalam tubuh kemudian mengeluarkannya.”

“Setelah itu, Pak?” Irul penasaran.

“Ternyata pasien itu tidak sembuh. Beberapa hari kemudian Mbah Dul dijemput paksa polisi dengan tenaga medis, karena terlacak di rekam interaksi pasien tadi,” Pak Lik menambah keterangannya.

“Jadi, Mbah Dul sempat dibawa ke rumah sakit, Lik?” tanyaku

“Iya, dirawat dua hari. Karena positif terinfeksi. Kemudian meninggal. Selain karena Corona, Mbah Dul yang perokok, usia lanjut, gula kadar tinggi, memicu Coronanya hingga Mbah Dul meninggal.”

“Kapan dimakamkan, Lik?”

“Nah itu dia masalahnya. Pihak rumah sakit menyuruh Lik-mu ini untuk bertangung jawab mengurusi. Waduh, runyam nanti. Bisa tertular aku.”

Aku mencoba menenangkan, “Jangan panik, Lik! Semua sudah ada prosedur. Jenazah diberi plastik agar tidak menular. Sudah ada protokol medisnya. Nanti saya bantu.”

Begitulah, lalu muncul diberita, tweeter, Ig, menjadi trending topics. “Dukun versus Corona. Seorang dukun desa mengaku bisa menyembuhkan pasien Corona dengan metode jin penyedot virus, akhirnya tertular dan meninggal, tragis!”

Perlahan, mistisime yang dulu dikedepankan semakin terkikis dan pudar. Masyarakat semakin sadar, dengan banyaknya santri-santri dari anak-anak yang kembali ke desanya. Mereka memeroleh pemahaman, betapa thagut bisa merusak akidah keimanan seorang hamba. Iyyakana’budu wa iyya kanas’taiin. Hanya kepada Allah kami menyembah dan memohon pertolongan.

Tinggalkan Balasan