Jam menunjukkan pukul sebelas pagi. Saya baru saja tiba di TK Islam tempat ibu mengajar. Waktu itu, masih sekitar 30 menit lagi sampai kelas usai. Anak-anak sedang menuliskan cita-cita mereka, sebelum kemudian membacakannya di depan kelas sebagai syarat boleh pulang.
Karena ruang kelas terbatas, maka pihak pengelola TK hanya menerima sedikit peserta didik. Ada 15 murid yang diampu oleh ibu saya di satu-satunya ruang kelas yang ada di dalam bangunan TK. Dari 15 murid itu, 2 di antaranya ingin jadi dokter, 3 orang lain ingin jadi hafiz Qur’an, 2 orang ingin jadi polisi, 3 orang ingin jadi tentara, 3 orang ingin jadi guru, dan 2 orang lain ingin jadi pengusaha.

Pada kesempatan yang berbeda, saya sedang menunggu bibi saya di tempat kerjanya: sebuah SD Islam Terpadu di kawasan metropolis Bekasi. Ada papan visi misi dan tata tertib terpampang di salah satu dinding sekolah. Papan itu intinya memuat tentang orientasi ketauhidan, akhlak, dan penguasaan ilmu pengetahuan-teknologi. Kata ‘kritis’ dan ‘terbuka’ tidak tersebut dalam papan itu.
Sewaktu ishoma di AICIS 2019 silam, seorang sosiolog pendidikan LIPI pernah mengatakan kepada penulis, “Kalau kita main ke salah satu sekolah, di manapun itu, kemudian secara acak kita bertanya ke salah satu murid ‘mau jadi apa?’ kita akan mudah menemukan jawaban ‘mau jadi Youtuber’.”
Kemudian ia mengatakan, “Karena kita tidak tuntas dalam merumuskan esensi ‘manusia Indonesia’, akhirnya lokus ini jadi rebutan banyak kepentingan politik dan identitas. Salah satunya adalah Islam, dengan munculnya narasi-narasi bahwa manusia Indonesia adalah manusia yang beriman dan bertakwa. Akhirnya kita bikin sekolah Islam. Dan kalau kita lihat tujuan pendidikan kita, itu sangat islami karena ada campur tangan Islam politik. Oleh karena itu, ada ciri manusia beriman, bertakwa, dan lain-lain. Padahal, ini indikator yang tak tergapai. Di tambah lagi oleh keterikatannya dengan narasi ‘ kembali ke Islam, ke Al-Qur’an dan ke Hadis’. Pertanyaannya, Islam yang mana?”
Celotehan cita-cita anak-anak merefleksikan imajinasi terdalam tentang konsep masyarakat dan fungsi individu yang dibayangkan oleh dirinya dan tempat ia belajar. Apa yang terjadi di TK tadi mungkin tidak bisa dijadikan generalisasi, tetapi dari situ minimal ada sebuah gambaran bahwa betapa imajinasi anak-anak di sekolah Islam masih terpengaruh oleh imajinasi alam pikiran Orde Baru.
Pada tahun 1970-1990an, keran ekonomi dan modal asing terbuka lebar. Militer juga menggurita dari segi politik struktural hingga diskursif. Totalitarianismenya merentang dari jejaring kuasa relasi, kontrol keamanan wilayah, muatan materi sekolah, hingga tafsir Pancasila.
