Di periode ini, laju pembangunan beserta aktivitas ekonomi modern memengaruhi persepsi masyarakat tentang apa itu kemuliaan, kesuksesan, dan kehormatan dari sebuah profesi berdasarkan nilai guna dan orientasi yang sesuai dengan konstruksi sosial Orde Baru berbasis kapitalisme dan militerisme. Hal ini tentu sepenuhnya berbeda dengan Indonesia di masa agraris dulu.
Dalam alam Orde Baru yang kini telah mengkristal, setidaknya ada tiga semangat turunan kapitalisme dan militerisme yang bersembunyi di balik cita-cita anak. ‘Dokter dan pengusaha’ merepresentasikan semangat meritokrasi, yakni sebuah sistem masyarakat yang menghendaki kompetisi berbasis kompetensi. Sistem ini dikehendaki kapitalisme untuk menopang kelancaran modal dan birokrasi. Ketika pendidikan menyajikan kompetensi secara timpang, maka ketimpangan hidup terjadi. Sementara itu, ‘polisi dan tentara’ merepresentasikan heroisme, nasionalisme, dan maskulinitas, yang merupakan perpanjangan dari militerisme.

Sementara itu, ‘hafiz’ adalah profesi yang berasal dari semangat Islamisme, yang baru saja menguat setidaknya dalam dua dekade terakhir. Tetapi, imajinasi tentang ‘hafiz’ kini memiliki unsur ekonomi yang berakar pada menguatnya kesalehan sosial yang ditopang oleh materialisasi agama. Semangat menjadi hafiz, salah satunya, terdorong oleh jaminan kepastian hidup, baik berupa materi dan kehormatan di dunia, ataupun keselamatan di akhirat.
Dunia Orde Baru adalah dunia peralihan dari subsisten-agararis ke kapitalistik-modern. Cita-cita menjadi nelayan dan petani turun menjadi tak membanggakan dan identik dengan kemiskinan. Cita-cita menjadi orang kantoran, dokter, polisi, dan tentara mendapat popularitas di tengah masyarakat modern dan rezim militeristik. Sementara, cita-cita menjadi ilmuan sosial atau filsuf tidak mendapat tempat sebab potensi subversinya dan pertimbangan pragmatis yang tak menjanjikan bagi penghidupan sehari-hari.
Dalam sebuah film animasi anak yang diklaim sebagai animasi Islam terbaik di Indonesia, Nussa Rara (2021), imajinasi yang tampil adalah imajinasi kesalehan, teknokrasi, dan meritokrasi. Film itu bercerita tentang seorang anak muslim bernama Nussa yang berambisi mengalahkan roket milik salah satu kawan sekelasnya yang menurutnya terlalu canggih. Ambisi itu penting bagi Nussa karena menyangkut pertaruhan baik-buruk dirinya di mata penilaian rapor dan sistem perangkingan di sekolah.
Sebagai sebuah produk kebudayaan yang memuat imajinasi komunitas tertentu (Islam), Nussa Rara adalah pucuk dari gunung es soal dominasi pengaruh kapitalisme beserta jejaring meritokrasinya terhadap nilai-nilai dan imajinasi masyarakat Islam modern.
Implikasi atas kemapanan dominasi ini adalah, pertama, timbulnya romantisasi atas teknologi, industrialisasi, dan ekonomi oleh umat Islam. Romantisasinya berakar pada periode abad ke-19 dan ke-20 ketika umat Islam mengalami puncak kemunduran peradaban, sementara Barat dengan pencerahannya (aufklarung) mengalami kemajuan hingga melahirkan industrialisasi yang kini bertahan menjadi agenda dominan di banyak tempat. Industri adalah irisan yang menjembatani antara teknologi dan kapitalisme.
