“Tak semua yang lambat itu lemah,” ujar Kakek Raji suatu hari. “Ada hal-hal yang hanya bisa selesai kalau kita tidak memaksanya selesai.”
Dina mengangguk, tapi benaknya tetap mencari padanan kalimat itu dalam bahasa dunia kantoran—tempat target jadi segalanya.

Pada hari ketujuh, Kakek Raji menawarkan Dina untuk belajar.
“Tanganku sudah lelah kadang-kadang. Barangkali kau bisa bantu melanjutkan.”
Dina ragu. Tangannya terbiasa mengetik, bukan menganyam. Tapi ia mencoba. Hasilnya kacau. Rotan terlepas, bentuknya tidak simetris, dan ujung-ujungnya tidak rapi.
Kakek Raji tertawa kecil.
“Yang sederhana justru sering tak dihargai karena kelihatan mudah. Padahal menjaganya tetap sederhana, itu yang sulit.
Sore itu, Dina pulang dengan telapak tangan yang memerah. Tapi ada rasa puas yang tak bisa dijelaskan. Seperti ketika kecil dulu, berhasil membuat pesawat kertas yang bisa meluncur jauh.
Malamnya, ia membuka jurnal lamanya. Di antara catatan strategi pemasaran dan peta kompetitor, ada satu halaman yang menatapnya pelan: “Hal-hal kecil yang bikin bahagia”.
Entahlah, dia pun lupa bagaimana dan kapan dia menuliskannya. Ia pun membaca ulang daftarnya:
– Menyiram bunga
– Makan dengan tangan sendiri
– Memeluk ibu sepulang kerja
– Mendengar hujan tanpa melakukan apa-apa
– Menolong orang tanpa pamrih
Dina tersenyum kecil. Ia menulisnya lima tahun lalu. Namun seiring waktu, daftar itu tenggelam oleh rencana-rencana besar. Bahagia yang dulu bisa dicapai dengan secangkir teh dan angin sore, kini terasa seperti barang mewah yang tak bisa dibeli.
Beberapa hari menjelang cutinya usai, Dina kembali ke rumah Kakek Raji. Kali ini, ia ingin membuat satu kursi sendiri, dari awal sampai akhir.
