Di Balik Dinding Kayu

“Untuk apa?” tanya sang kakek.

“Untuk diingat,” jawab Dina.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hari itu mereka menganyam bersama. Pelan. Lilit demi lilit. Kayu dipahat, rotan dipotong, dan tangan Dina mulai hafal gerakannya. Ia tidak lagi cemas soal hasil. Ia hanya ingin proses itu utuh, tak tergesa.

Ketika kursi selesai, kakek menunjuknya.

“Simpan. Buat tempat kau istirahat saat hidupmu terlalu bising.”

Dina tak kuasa menolak. Ada sesuatu dalam kursi itu—lebih dari sekadar kayu dan rotan. Kursi itu adalah waktu yang dibentuk. Keheningan yang ditata. Dan rasa cukup yang dijahit perlahan.

Pada hari terakhirnya di desa, Dina duduk di kursi buatan tangannya. Ia menyeruput teh, memandangi anak-anak yang berlari di jalan, dan membiarkan angin menari di rambutnya.

Tidak ada e-mail, tidak ada notifikasi, tidak ada kebisingan. Tapi dadanya terasa penuh.

Ia akhirnya sadar: bukan kebahagiaan yang sulit dicapai, melainkan cara kita terlalu sering mencarinya di tempat yang salah.

Kita menumpuk ambisi, mengejar validasi, dan menyebut lelah sebagai keberhasilan. Padahal kadang, cukup adalah ketika kita bisa mendengar detak jantung sendiri tanpa tergesa.

Dina pulang ke kota dengan koper yang sama, tapi jiwa yang berbeda. Kursi itu ia letakkan di sudut ruang kerja. Di hari-hari ketika rapat menumpuk dan jadwal mencekik, ia duduk di sana sejenak. Mengingat bahwa dirinya punya hak untuk diam. Untuk bernafas. Untuk memperhatikan kembali hal-hal kecil.

Suatu malam, setelah semua kerja selesai, ia menulis ulang daftar bahagianya.

Tapi kali ini, ia menambahkan satu hal: Duduk di kursi buatan sendiri, mengingat bahwa hidup bisa terasa utuh tanpa harus selalu terburu-buru.

Tinggalkan Balasan