DI BAWAH MEJA CATUR

Tiada yang lebih manjur
Dari mantra ibu
Dikunyahnya doa-doa
Dengan sirih dan tembakau
Sesekali dimuntahkan
Rupa kutukan yang menyembur
Dari mulutnya yang kalis.

Tidakkah kau ingat Malin?
Anak batu yang
Dikandung ibu dengan iba
Diasuh dengan asih
Namun susu ibu dibalas tuba.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Layar perahu luas membentang
Bersandar pada dermaga sumbang
Hati berbatu patut dikutuk
Anak diasuh malah mematuk.”

Malang, 23 Oktober 2025.

ADONAN ROTI
Untuk Simbah Sri Utamah

I

Kau simpan air mataku
dalam adonan roti,
berkali-kali kau mengelus kepalaku
yang rindu pada tangan ibu.
Tapi tanganmu lebih dulu jatuh
Di atas kerinduan yang terhampar
Untuk sekadar menjawab kesepian

Kaugulung adonan
pada meja kecemasan
lalu kau membentuknya
menjadi bintang dan
sabit yang kau harap
bisa bersinar dalam mulutku
yang padam.

II

Diam-diam, kusimpan rindu
Dari balik kalang tanah
Kupastikan, apakah kau akan kembali
Mengaduk tepung dan telur
Dalam satu mangkuk kenangan?
Kumenunggu dalam mimpi yang sani
Berharap rinduku tak majal
Menembus dinding
Kutemukanmu; masih seperti dulu
Tangan penuh adonan, dan mulut penuh gula.
Mentari terbit pada bola matamu
Memagikan malamku yang gelap
Ketika aku bangun, segera kukirim
Surat puisi ini
Mengganti rotimu yang dulu

Malang, 28 Oktober 2025.

Tinggalkan Balasan