DI BAWAH MEJA CATUR
Di meja hidang, kulumat sepi
Kusuap detik demi detik
Pada denting jam yang berdentang
Kuminum kekosongan yang
Mengalir pada kerongkongan pintu
Hingga akhirnya kantuk mata mengatup
Pada tubuh yang lesah

Kuseduh tunggu
Pada punggung malam yang merayu
Kutumpahkan pada kasur
Yang berangsur kabur
Dari pijar mata
Mentari mengecup punggung mataku
Yang masih mendung
Sesekali kucecap awan yang bergelantung
Di atas tubuh yang murung
Ia datang membawa memar
Pada sudut tubuhnya yang sani
Senyumnya dirajah
Di atas kelopak mawar yang menganga
Di bawah angka yang ditabur
Pada desah napasnya yang ringkih
Ia dekap tubuh sunyi
Yang memuntah resah
“Jangan kembali!”
Pintaku merayu
“Tubuh ini tak dapat disulam
Dengan benang kuasa!”
Kalimatku kisut
Beringsut dari bibir.
“Akankah kita memintal janji
Dan mengeja dompet kosong setiap hari?”
Kita nyaris mati
Pada babak pertama
Di bawah meja catur
Wonosari, 27 Juni 2025.
KUTUKAN SUCI IBU
Tiada yang lebih manjur
Dari mantra ibu
Dikunyahnya doa-doa
Dengan sirih dan tembakau
Sesekali dimuntahkan
Rupa kutukan yang menyembur
Dari mulutnya yang kalis.
Tidakkah kau ingat Malin?
Anak batu yang
Dikandung ibu dengan iba
Diasuh dengan asih
Namun susu ibu dibalas tuba.
“Layar perahu luas membentang
Bersandar pada dermaga sumbang
Hati berbatu patut dikutuk
Anak diasuh malah mematuk.”
Malang, 23 Oktober 2025.
ADONAN ROTI
Untuk Simbah Sri Utamah
I
