AKU YANG SEDANG MENJADI
Aku datang membawa tanya,
pulang membawa diri
belum paripurna,
namun tak lagi serupa.

Kitab mengajariku mengenal aksara,
tetapi hidup mengajariku
siapa aku,
Di antara bayang-bayang diri
di antara cahaya dan kegelapan.
Ternyata aku adalah benih
yang sedang mencari musim,
tumbuh perlahan
menuju diri
yang Tuhan kehendaki.
JANGAN TIDUR DI BAWAH BAYANG-BAYANG TAKDIR
Jangan lelap di bawah nabastala,
seolah guratan langit telah paripurna.
Barangkali jalan, belum ditorehkan pada buana
sedangkan kakimu adalah pena
Tulislah sesuatu yang kau sukai
Jangan kau kira takdir
selalu bersemayam di ufuk yang jauh;
barangkali ia bersembunyi
di antara degup sukma
dan keberanianmu melangkah.
LANGIT DAN BUMI YANG MENGADU
Sihir yang gaib membuatku menatap langit
Matanya layu, pandangannya sayu.
Sihir yang gaib kembali menundukkan kepalaku
Menghadap bumi yang mulai sendu.
Kembali aku menatap langit
Ternyata ia adalah ayat
Kembali aku menatap bumi
Ternyata ia adalah ayat
Katanya, kami hanya sedang saling mengadu
TAK DILAHIRKAN UNTUK DIAM
Kami tidak dilahirkan untuk menjadi gema.
Zaman bergerak, kami pun bergerak.
Warisan dunia hanyalah perihal keberuntungan,
tetapi masa depan, bukan sesuatu yang cukup diwariskan.
Ambisi kami turut menulis
Jejak jiwa dalam sejarah
Keberanian bangsa-bangsa.
TERSESAT
Aku berjalan
Dengan kepala yang satu
Dengan hati yang terus menggerutu
Semakin jauh, semakin kecil diriku
Baik hati, baik kepala yang satu
Tak pernah betul-betul tahu
Ke mana jiwa ini menuju
