***
Dalam ruangan lain. Elang juga mempersiapkan diri, gelisah, bahagia, haru juga dirasakannya. Setelan jas putih terlihat begitu cocok dengan Elang. Di depan cermin ia berlatih mengucapkan sumpah suci nan sakral akad. Hingga pandangan Elang tertuju ke luar jendela. Seolah melihat masa-masa sulit yang dilaluinya bersama Dara, ia tersenyum tipis. Semuanya berlalu dengan cepat, berganti bahagia yang berlimpah ruah.
Sebenarnya pernikahan ini rencana digelar tiga bulan yang lalu. Tetapi, Dara dan Elang tetap sabar menanti hingga pandemi ini sedikit mereda. Dan inilah mungkin waktu yang tepat untuk keduanya, meski hanya resepsi sederhana dengan mengundang saudara terdekat saja.

“Wah, sepertinya pengantin kita sangat bahagia,” goda ibunya yang membuat lamunannya terpecah.
“Ibu…,” Elang berjalan menghampiri ibunya, dia memeluk ibunya dengan erat. Melihat tingkah Elang yang manja ibunya mengusap lembut rambut Elang.
“Ibu, apakah aku bisa menjaga Dara nanti? Apa aku bisa membimbingnya?” Elang mengungkapkan semua kerguannya.
“Tentu saja kamu bisa Elang,” ibunya mencoba meyakinkannya.
“Terima kasih ibu dan ayah. Elang mohon doa restunya.”
Menit berganti detik. Waktu yang dinanti-nanti akhirnya tiba juga. Sumpah suci akan diucapkan. Pintu menuju hidup baru sudah di depan mata. Pelaminan sederhana namun penuh makna untuk menuju hidup baru telah disiapkan. Elang sudah duduk manis di bawah pelaminan. Menunggu kehadiran sosok pujaan yang didambakan. Jantungnya berdetak kencang. Cukup lama Elang menunggu di pelaminan, dia mulai khawatir.
“Apa yang terjadi dengan Dara?” hatinya berbisik gelisah.
Ibu Dara menuju ke pelaminan. Namun tak bersama Dara. Semua heran dan bingung melihat wajahnya memerah dan berlinang air mata di pipinya. Elang semakin heran. Tak mengerti apa yang sedang terjadi.
“Ada apa Ibu? Dimana Dara?” tanya Elang khawatir.
“Dara sedang diperiksa kakaknya di kamar. Segeralah kamu menyusulnya ke sana,” ucap Ibu Dara dengan air mata yang tak hentinya mengalir.
Elang langsung bergegas menuju ke kamar. Tampak Mas Danu, kakak Dara, sedang memeriksa Dara yang masih belum tersadar. Ia mulai kebingungan sembari turut melakukan pemeriksaan awal kepada Dara.
“Elang, sebaiknya Dara kita bawa ke rumah sakit saja. Penyakit lamanya sudah mulai menyerang Dara,” kata sang kakak.
“Iya, Mas Danu. Kita harus secepatnya membawa Dara,” jawab Elang.
Suasana berubah menjadi haru. Seluruh keluarga tampak kebingungan dengan apa yang terjadi. Mobil putih melaju ke rumah sakit dengan membawa Dara, Elang, dan Mas Danu. Menyusul berikutnya mobil kedua orang tuanya.
“Elang, kamu tentu sudah tahu kondisi sebenarnya adikku. Sebelum melangkah lebih jauh, akankah kamu ingin berhenti cukup sampai di sini?” tanya Mas Danu kepada Elang secara rahasia.
“Insya Allah saya siap. Siap menerima Dara dengan segala kelebihan dan kekurangannya.”
“Kamu sudah tahu risikonya kan tentang riwayat penyakitnya Dara. Bisa saja maut yang akan menjemputnya tiba-tiba.,” tatap Mas Danu dengan nyalang.
“Iya Mas Danu. Saya siap. Saya sudah yakin untuk hidup bersama Dara. Lillahi taala,” jawab Elang dengan yakin.
