Dara sudah mulai tersadar. Ia mulai membuka matanya. Gaun pengantin masih ia kenakan. Semua yang di dekatnya tampak bahagia.
“Bapak Ibu Dara dan semuanya, izinkan saya mengajukan permintaan,” pinta Elang.

“Elang ingin segera mengucapkan akad dan memperistri Dara,” pintanya.
Semuanya tampak kebingungan sejenak. Tak tahu apa yang harus dilaksanakan. Sejenak bapak dan ibu Dara saling menatap dan memberikan isyarat. Demikian pula dengan kedua orang tua Elang.
“Sedari awal Bapak sudah mengatakan. Semua bergantung yang menjalaninya. Bapak dan Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua.”
Mas Danu kemudian menelepon penghulu. Beberapa jam kemudian, penghulu yang tadi pagi sudah siap akhirnya datang ke rumah sakit. Semua di luar skenario pada lazimnya dalam membangun mahligai rumah tangga. Elang tampak sibuk mempersiapkan kalimat akadnya. Ia berusaha keluar ruangan, memfokuskan diri untuk menghafal. Di benaknya bermunculan pula makna dari kalimat itu. Makna untuk memulai hidup baru. Makna untuk adanya hak, kewajiban, sekaligus visi kehidupan antara keduanya sebagai suami dan istri.
“Apakah kamu sudah siap, Elang?” tanya penghulu.
“Insya Allah siap.”
Akad pun dimulai. Elang dan Dara tampak gugup dengan apa yang ada. Tapi keduanya terlihat bahagia. Kalimat pertama, Elang kurang konsentrasi sehingga harus diulangi. Kalimat kedua, Elang mengucapkan kalimat akad dengan tersendat-sendat.
“Kamu harus fokus dan yakin Elang. Tenangkan pikiranmu. Bulatkan tekadmu!” petuah sang penghulu.
Kalimat ketiganya pun akhirnya lancar dan jelas terdengar. Semuanya tampak bahagia. Peristiwa itu pun akhirnya dilanjutkan dengan doa. Tak lupa foto dengan cincin melingkar di jari kedua mempelai.
“Ada apa kamu istriku?” tiba-tiba Dara terjatuh. Tak sadarkan diri lagi.
Semuanya terkejut. Dokter dan perawat rumah sakit mengecek lagi kondisinya. Semua keluarga pun menunggu di luar ruangan dengan penuh kekhawatiran.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dokter Fahri?” tanya Elang kepada rekan kerja seniornya yang baru saja memeriksa kondisi Dara.
“Bisakah kita berbicara sebentar di ruangan saya?” tanya Dokter Fahri.
Keduanya diikuti perawat menuju ruangan khusus yang ditunjuk Dokter Fahri. Tampak ada sesuatu hal yang penting dan rahasia yang harus diputuskan saat itu juga.
“Bapak, Ibu, Mas Danu, dan semuanya. Mohon doa untuk kelancaran dan kesembuhan untuk Dara. Setelah ini tim dokter akan melakukan tindakan medis untuk Dara,” kata Elang begitu ke luar ruangan.
“Kita juga butuh donor darah AB rhesus negatif yang sangat langka. Semoga semuanya baik-baik saja,” kata Elang sembari terduduk lesu.
“Kamu tenangkan pikiranmu. Akan kucarikan dan kuhubungi semua rekan dan kolega,” Mas Danu menenangkan keadaan.
Hening menyelimuti mereka yang duduk berjejer di kursi tunggu. Mereka semua tak beranjak pergi meski kemungkinan dokter butuh waktu lebih lama lagi. Lantunan dzikir dan doa terdengar di antara mereka.
