“Hm. Terus gimana ini. Lanjut atau pindah?”
“Kalau feeling saya sih, kita salat dulu di masjid terdekat. Waktu Asar kan pendek.”

“Hm. Begitu ya. Tapi kita belum dapat ikan.”
“Justru itu. Cari petunjuk di dalam salat. Hehe.”
“Waduh, makin bagus ide kamu, Kang.”
Di musala terdekat mereka salat Asar. Dalam sujudnya. Sahril seakan melihat ikan. Ikan besar sekali. Matanya bersinar. Bersinar indah sekali. Seakan memancarkan Tuhan. Ia hampir saja tersedot pesona itu. Sujudnya begitu lama. Sampai orang-orang di sekitarnya heran. Air bawah sajadahnya mengalir cahaya halus. Seperti kunang-kunang yang keluar.
Birin menjadi makmum lantas heran kenapa sujudnya tidak rampung-rampung. Hatinya rusuh. Tidak biasanya Sahril begini khusyu. Tapi dengan takdim seorang kawan kepada kawan, ia sabar menunggu. Sekitar sepuluh menit sujud itu berlangsung. Birin khawatir jidatnya akan menjadi hitam. Tapi dia menunggu.
Sahril memang sering menjadi imam ketika salat berdua dengan Birin. Birin menganggap bahwa hati Sahril lebih jernih daripada hatinya. Lebih tulus daripada dirinya. Karena itulah urusan imam selalu diserahkan kepadanya.
Setelah habis sujud dan salam, wajah sahril seakan menyinar. Birin kaget. Mau bertanya tapi malu. Tapi penasaran begitu hebat mengamuk benaknya.
“Kang. Tadi itu namanya sujud apa? Kok durasinya lama sampai sekitar sepuluh menit.”
“Saya itu… saya itu tadi seperti ketemu Tuhan, Kang.”
“Maksudnya kamu ketemu Tuhan di sujud itu?”
“Oh, bukan. Aku lihat mata ikan, Kang, tapi bersinar terang. Menyihirku. Ketika sujud itu aku seolah hanyut.”
“Sebentar, Kang. Maksudmu itu tadi namanya sujud ikan?”
“A-ha-ha-ha. Bukan, Kang.”
“Lah terus. Dapat pencerahan tempat mancing ikan yang josh?”
“Hm.”
“Tuhan sudah menjawab kegelisahan kita, Kang?”
“Begini, Kang. Aku bingung. Lebih baik kita kembali ke tempat mancing ikan tadi. Perasaanku itu ikan besar, Kang.”
Di spot milik Kang Birin itu, mereka kembali melempar umpan. Dan entah mimpi apa. Mereka dapat banyak sekali ikan. Ikan-ikan bermata cahaya melompat dan menangkap umpan mereka.
“Wah, Kang. Ini lebih ramai dari kemarin. Luar biasa, doa sampeyan. Memang tidak salah sejak dulu saya meguru, berguru, sama sampeyan. Ampuh tenan.”
Malam beranjak dan hening. Ikan-ikan telah pulang ke rumah masing-masing bersama Kang Sahril dan Kang Birin. Di pintu istrinya menyambut senyum. Seperti rembulan yang ngapung di langit malam.
Yogyakarta, 2021.
