Di Mata Ikan Tuhan Memandang

Sebenarnya usia mereka tidak terpaut jauh. Sahril lebih muda beberapa tahun. Dulu pernah mondok bareng di Yogyakarta. Tapi kebiasaannya mancing membuat mereka berdua lebih sering mancing daripada ngaji. Suatu hari Kiainya berbicara pada mereka, “Jadi mau ngaji atau mancing?”

“Dua-duanya, Pak Yai.” Suara mereka kompak menyahut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kiai hanya senyum-senyum saja mendengar jawaban mereka. Tidak pernah dilarang sama Kiai, hanya saja memang banyak santri lain yang mengeluh atau menceritakan soal kelakuan kami yang lebih sering ke sungai daripada jamaah ke masjid. Atau sering sekali kabur di saat-saat waktu ngaji. Mendengar Kiai tidak marah, santri lainnya jadi bingung. Dan kisah itu pun seperti tidak pernah berhenti hingga sekarang mereka pulang ke kampung.

Hanya istrinya yang bisa mengerti perasaan keduanya. Dan sama-sama maklum. Sebab sebelum menikah Kiai sudah mengatakan bahwa, ‘harus saling menerima kekurangan dan kelebihan pasangan kita.’

Santri-santri yang dulu lulus dan menjadi ustadz sering sekali memergoki mereka saat mau mancing. Tapi mereka hanya berkelakar saja.

“Mancing enggak eling waktu, Kang. Tidak berubah sejak di pondok,” kata santri yang dulu ikut mencibir kegiatan mereka mancing saat waktunya ngaji.

“Yo, ben. Kiai juga tidak pernah melarang kita mancing. Ini juga kan kewajiban suami bekerja. Memenuhi kebutuhan hidup di rumah,” jawab Kang Birin.

Di tepi sungai, Kang Birin dan Kang Sahril sudah melempar umpan ke badan sungai. Ditungguinya umpan itu dimakan ikan, disambar, dicaplok ikan besar. Berapa menit, berapa menit lagi. Umpan itu masih juga belum dimakan.

“Kang, kok sepi. Katanya ramai.”

“Hehe, sabar, Kang, Pemanasan dululah. Pengenalan.”

“Umpanmu juga masih sepi tuh.”

“Iya ini. Aneh juga. Kemarin jam segini ramai, Kang.”

“Wah, pindah saja bagaimana?”

“Oh, nanti dulu, Kang.”

Berjam-jam mereka di situ. Umpan mereka lambat laun dimakan habis, tapi ikannya tidak pernah ketangkap. Tidak nyaplok kail. Semakin penasaran karena airnya agak kecoklatan. Mereka berpikir itu ikan segede orang. Karena lihai, dan setiap kali umpan terlempar selalu ludes dengan cepat.

Hingga terdengar adzan Asar. Berkumandang bersama awan yang berarak dibawa angin ke utara lalu ke barat. Mereka masih berupaya memasang umpan. Melemparnya ke badan sungai. Dan habis. Terus begitu.

“Kang, ini kayaknya ada yang aneh. Kenapa setiap kali umpan kita lempar selalu habis. Tapi tidak pernah ikan itu kena?”

“Iya, saya merasa tarikannya besar. Seperti ikan besar itu, Kang. Apa kita akali saja. Tapi bagaimana?”

“Jangan-jangan bukan ikan itu, Kang. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Tapi buaya, Kang.”

“Hush. Jangan su’uzon. Masa di sungai begini ada buaya, ngawur kamu.”

“Loh, bisa saja. Ini termasuk sungai besar, Kang.”

Tinggalkan Balasan