Di Mata Kaki, Bukan di Dahi

Kok bisa?

Bisa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bayangkan, dalam sehari alias 24 jam, setidaknya kami, para santri, dua kali mengikuti wirid-dzikir khusus itu. Biasanya siang sehabis salat dzuhur dan tengah malam sehabis salat tahajud. Yang siang hari relatif ringan karena yang diamalkan wirid-dzikir “versi pendek”. Paling, kurang dari satu jam sudah kelar. Nah, yang berat adalah dzikir malamnya. Selain dibebani mata yang suka terkantuk-kantuk, wirid-dzikirnya versi yang panjang, dan tawasulnya hingga ke negeri-negeri seberang. Dua jam selesai sudah terbilang cepat.

Ditambah dengan berbagai kegiatan ngaji-ngaji kitab, praktis posisi tubuh para santri saban hari lebih banyak duduk bersila jika dibandingkan dengan tiduran, berdiri, selonjoran, atau yang lainnya. Sebab, berbagai kegiatan tersebut hanya pas diikuti dengan cara duduk bersila, terutama untuk dzikirannya. Duduknya harus bersila dengan sempurna: badan tegak lurus, permukaan paha harus rata saat bersila. Semua beban itu kemudian bertumpu pada punggung kaki yang terbalik dan menempel di lantai. Maka, dalam posisi demikian, yang menjadi “korban” adalah mata kaki.

Setelah beberapa lama, karena terlalu sering dan terlalu lama duduk bersila, tentu saja lapisan kulit di sekitaran mata kaki saya mulai menebal dan semakin tebal, kemudian mengeras. Warnanya pun mulai ikut berubah menjadi gelap dan kemudian menghitam. Begitulah cerita mata kaki saya kapalan, seperti juga yang dialami teman-teman santri di pondok.

Tinggalkan Balasan