Pembelajaran harus terjadwal dan sistematis untuk memenuhi hak anak-anak dalam memperoleh pendidikan yang layak. Tentunya, kata terjadwal tidak sama alokasi waktu dan jumlah jamnya seperti pada pembelajaran tatap muka. Misalnya, biasanya siswa jenjang SMA/MA setiap hari menerima 5 mata pelajaran dengan durasi waktu 8 jam, maka pada pembelajaran daring bisa cukup 2 sampai 3 mata pelajaran saja. Durasi penyelesaian dan pengiriman tugas bisa lebih variatif dan adaptif; misalnya sesuai jam, pada hari yang sama, atau pada waktu tertentu bergantung pada tingkat materi dan situasi kondisi.
Yang kedua, pembelajaran terjadwal memungkinkan anak memiliki rutinitas yang teratur, termonitor, dan meminimalkan melakukan aktivitas negatif atau tidak bermanfaat. Dari sini, bisa terjadi kolaborasi antara guru mata pelajaran dalam menyampaikan materi, wali kelas untuk memantau aktivitas dan penyelesaian tugas para siswa, serta ikhtiar wali murid dalam memfasilitasi kegiatan belajar siswa.

Pembelajaran daring ini juga menimbulkan problematika dari aspek manusianya; mulai siswa, orang tua, maupun guru. Tidak semua guru memiliki kecakapan literasi digital dan keterampilan berkomunikasi daring yang mumpuni. Yang lebih parah lagi, persepsi guru bahwa “belajar dari rumah” hanya berupa pemberian tugas semata secara daring kepada siswa. Tugas-tugas itu memiliki bobot dan target penyelesaian yang sama dengan pembelajaran tatap muka. Sedangkan siswa tidak dibekali dengan materi pembelajaran yang memadai.
Oleh karena itu, semestinya guru tidak sekadar memberikan tugas, tetapi juga materi sekaligus adaptif terhadap situasi kondisi. Materi bisa melalui presentasi power point, penjelasan langsung guru melalui video daring, tautan materi serta ruang diskusi dari sumber lain (youtube, website, aplikasi pendidikan, google classroom, dll.).
