Dialektika Pendidikan di Masa Pandemi

Yang kedua dari sisi siswa. Masalah klasik yang terjadi ialah keterbatasan sinyal jaringan, kuota paket data, hingga ketiadaan gawai. Masalah lainnya adalah siswa yang merasa keberatan dan mengeluh karena beban tugas yang terlalu berat, kurang paham terhadap materi yang dipelajari, atau belum terjalinnya komunikasi tanya jawab guru siswa dalam penyelesaian tugas. Meski beberapa siswa juga mengakui nilai lebih pembelajaran daring ini bahwa siswa tidak perlu berangkat pagi dengan seabrek persiapannya dan bisa mengakses Internet secara langsung dalam penyelesaian tugasnya.

Yang ketiga dari sisi orang tua. Orang tua harus mampu mengawasi, memfasilitasi, menilai, dan menjadi guru bagi anak-anaknya di rumah. Padahal, latar belakang sosial pendidikan tiap orang tua berbeda-beda. Jika diambil hikmahnya, keadaan ini menumbuhkan hubungan kedekatan anak dan orang tua. Saat di rumah, anak juga akhirnya bisa mempelajari banyak hal, berbagi informasi, dan tugas masalah domestik (memasak, mencuci, menyetrika, menyapu, dll.).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Permasalahan muncul pada keluarga yang kurang mampu memberikan pendampingan dan pengawasan kepada anak-anaknya. Misalnya saja anak banyak menghabiskan waktunya untuk bermain game online, keluyuran, bermain tanpa batasan, dan kegiatan lain di luar rumah yang tentu saja bertentangan dengan protokol pencegahan Covid-19. Oleh karena itu, jadwal pelajaran yang sistematis, penugasan, pemantauan, dan pengawasan harus dilakukan secara bersama-sama oleh sekolah, guru, dan orang tua.

Bagaimana dengan santri yang sekaligus pelajar? Tentunya kita berharap kebijakan untuk kemaslahatan bersama. Bagaimana struktur kurikulum, bentuk tugas, dan lain-lainya tidak disamaratakan dengan siswa pada pendidikan reguler mengingat para santri juga tetap ditugasi dari pesantrennya.

Tinggalkan Balasan