Dicari: Muslim yang “Free Thinker”

“Apakah kalian tidak berfikir?” atau “Apakah kalian tidak menggunakan akal?”

Seharusnya, umat muslim tidak boleh kalah dengan umat agama lain atau bahkan dengan kaum tak beragama sekalipun. Mereka menciptakan kemajuan yang luar biasa di bidang teknologi, penemuan-penemuan mutakhir di seluruh bidang keilmuan. Sementara umat Islam malah acuh tak acuh, hanya bisa menjadi penonton dan konsumen. Ketika ditanya tentang kehebatan ilmuwan dari golongan Islam, cuma bisa cerita tentang tokoh-tokoh masa lalu, al Jabar, al Khawarizmi, al Biruni, lalu menyalah-nyalahkan renaissance, sebab penindasan atas umat Islam, sehingga dalam peradaban Islam teknologi menjadi musnah, direbut oleh kaum lain. Bahkan, ada dongeng yang menceritakan sebuah al-Quran bergambar yang dicuri pasukan Crusader yang hanya berputar-putar di situ saja.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Yang difokuskan umat Islam sekarang ini apa? Berlomba-lomba menjadi hamba yang paling membela agama Tuhannya? Apakah itu tolok ukur prestasi seorang muslim? Siapa yang paling sibuk membela Islam, siapa yang paling kencang membela Islam, maka ialah muslim terbaik, muslim yang kaffah? Demo membela Islam, takbir keras-keras, ada juga yang visinya mendirikan khilafah, sebuah ide yang terdengar keren, tapi sungguh menampakkan kebodohan, memaksakan konsep khilafah yang tak jelas jluntrungannya.

Ketika tema diskusi para intelektual agama lain adalah seputar ilmu astronomi, tentang nanobakteri, tentang penamaan unsur senyawa baru, para intelektual muslim masih saja gontok gontokan berdebat tentang bidah, tentang siapa yang lebih pantas masuk surga.

Adalagi segelintir pemuka agama, yang malah heboh meramal datangnya kiamat, entah apa maksudnya. Kiamat pasti datang, baik umat beragama atau bahkan yang tak beragama sekalipun, mau tak mau akan percaya datangnya hari kehancuran dunia. Tapi, ketika para ilmuwan yang meskipun didominasi oleh nonmuslim, mereka saja membantah datangnya kiamat hari ini, lantas kenapa kita harus percaya pada “ustadz-ustadz kiamat” itu, meskipun menurut mereka sudah berdasarkan pada dalil agama. Ah, tentu saja bukan salah dalilnya, tapi pemahaman mereka yang belum sampai ke sana, tapi terburu-buru dalam mengambil sikap.

Tinggalkan Balasan