Dik Sulastri

“Dik, ini sudah jam tujuh lebih sepuluh. Mas harus segera ngantor nih…,” bisik Kang Sules kepada istrinya.

“Mbok ya sabar sebentar, sampeyan ngantornya tiap hari, ngantar aku seminggu sekali nggak mesti saja sudah sambat,”nyinyir Sulastri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Dik, bukannya mas nggak mau ngantar. Tapi jam kantor memang diatur begitu. Mas cuma bawahan.”

“Halah! Alasaaann terusss… mbok sekali-kali nyenengin istri. Kerja terus yang dipikirkan.”

Suasana awal keberangkatan baik-baik saja, ketika di tengah “perjalanan” suasana berubah menjadi perdebatan panjang.

“Dik Lastri… Aku berangkat ngantor dulu ya….”

Rupanya Sulastri masih memendam kemarahan dengan tidak menjawab Kang Sules yang ingin berpamitan.

Kang Sules mengulangi, “Dik… Mas berangkat ngantor dulu ya. Assalamualaikum….”

Sulastri menjawab dengan malas, “Waalaikumsalam… Duh senangnya yang mau ngantor, ketemu dengan teman-temannya, bisa guyon, ngopi, cangkrukan. Sementara kau biarkan aku di sini sibuk sendiri ngururis selamatan,” api kecil mulai disulut hari ini.

“Dik, bukannya begitu. Tapi ini saja sudah terlambat. Harusnya mas yang marah….”

“Lo, mau marah, silakan….”

Kang Sules tidak mampu lagi menahannya, “Dik, tahan emosimu! Aku ingin pagi ini diawali dengan baik, karena pagi yang baik bisa memengaruhi waktu-waktu selanjutnya!”

“Mas yang ingin menang sendiri! Egois. Ngeluh saja kalau istrinya minta dilayani. Dulu di akad bilangnya mau membahagiakan. Kenyataannya… zonk!”

“Baik… jika ini menyangkut materi untuk kebahagiaan, aku memang salah. Pekerjaanku hanya pegawai kantor kelurahan, gaji kecil, tidak bisa membelikanmu barang-barang mahal.”

“Loh, memangnya aku protes ketika mas nyerahin amplop gajian? TIdak pernah mas. Tetap aku terima. Bukan itu masalahnya.”

“Lalu apa?!” teriak Sules lebih keras karena sudah di luar sambil memegang sepeda motornya.

“Pikir saja sendiri. Suami kok tidak peka! Benar, kan, mas memang egois! Lebih mementingkan teman dan kerjaan. Huh!” sambil mendengus kesal, Sulastri menghantamkan wajan dengan keras di atas kompor.

Sesampai di kantor kelurahan, Kang Sules yang datang terlambat dimarahi oleh Pak Lurah. Karena dianggap tidak berdedikasi dan indisipliner. Kang Sules tak berdaya. Bagaimana tidak? Seorang istri ternyata mempunyai kekuasaan atas suaminya melebihi kekuasaan yang dimiliki atasan, presiden, negara sekalipun. Kang Sules menyesal? Tidak, bahwa hidup haruslah berjalan terus. Manusia harus maju, ke depan, berkembang biak layaknya ciri-ciri makhluk hidup dalam ilmu biologi. Dengan beristri, seorang bujang akan mengikat dan terikat, untuk keteraturan. Layaknya agama bagi pemeluknya, undang-undang bagi rakyat, atau sebuah tata tertib sepele tentang visi misi ormas, yang jika melanggar ketentuan negara, maka siap-siap saja dibubarkan.

Kang Sules berniat untuk memperbaiki. Entah ada apa dengan momen mengantar ke pasar. Selalu saja berakhir dengan kericuhan. Tidak direncanakan, berakhir dengan keributan. Awal yang sudah baik, di tengah pelaksanaan, masih juga terjadi perselisihan. Kang Sules kali ini akan berhati-hati, demi sang garwa, sigaring nyawa, pendamping hidupnya.

“Dik Sulastri, besok mas antar pergi ke pasar lagi ya,” rajuk Kang Sules.

“Nggak wes. Sulastri mau numpang Yu Ning saja. Nanti kita ribut lagi,” jawab Sulastri ketus.

“Insyaallah tidak kok. Mumpung besok mas libur. Jadi, free, bisa menemani dik Sulastri berlama-lama di pasar.”

“Baiklah kalau begitu, tapi janji jangan ngacau lagi lo ya.”

“Dijamin, tapi dengan syarat,” Kang Sules mencoba bersuara mesra.

“Halah! Kok pakai syarat, memangnya undian berhadiah yang pajaknya ditanggung pemenang. Apa syaratnya?”

“Ritual malam Jumat-nya dimajukan malam nanti ya,” mereka berdua pun terkekeh. Kang Sules yakin, kutukan mengantar ke pasar akan segera berakhir.

Semua sudah siap. Kunci, bensin, dan keadaan sepeda motor sudah siap. Waktu juga tidak dapat memburu, karena hari ini Kang Sules libur. Bismillah. Kang Sules pun mengantar Sulastri pergi ke pasar.

Setelah Sulastri puas berbelanja keperluan sehari-hari di pasar, Kang Sules diajakanya pulang. Lancar, tanpa ada hambatan, kericuhan, atau perdebatan. Kang Sules lega.

“Dik, mumpung liburan, ayo kita cari makan di warung,” ajak Kang Sules yang sedang membonceng.

Sulastri mengangguk tersenyum, “Tumben nih, Kang. Ayo, ke mana?”

“Dik Sulastri ingin makan apa?”

“Terserah mas. Aku tak manut saja.”

“Pagi-pagi enaknya makan bubur, paling ya di?”

“Nggak mau ah. Bubur? Kok seperti orang sakit saja. Yang lain mas.”

Tinggalkan Balasan