Dik Sulastri

“Lah, dik Sulastri ingin apa?”

“Terserah, tak manut mas Sules saja.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ya sudah, bagaimana kalau bakso nanti minumnya es teh, seger banget pastinya. Gimana dik?”

“Bakso??? Ini masih pagi mas. Ya makan nasi to. Kita ini orang Jawa, nggak bisa kalau tidak makan nasi. Bakso cocoknya sore atau malam.”

“Dik Sulastri ingin makan apa to sebenarnya?” Kang Sules agak jengkel.

“Terserah mas!! Kok tanya aku, yang ngajak kan situ, bukan aku. Jadi wong mbok ya yang solutip…,” nada Sulastri mulai tidak lembut lagi.

Dengan menahan sabar, Kang Sules membelokkan sepeda motornya ke warung pecel langganannya. Masih saja salah. Sulastri enggan makan. Di makannya sedikit, tidak dihabiskan, masih bersisa banyak. Kang Sules menggerutu sampai di rumah.

“Dik, kamu itu mbok ya menghargai suami sedikit. Sudah berusaha aku untuk menyenangkan kamu. Tapi masih saja salah.”

Sulastri dengan sedikit mendelik marah membalas, “Mas, bilang saja kalau nggak ikhlas. Berbuat kebaikan sama istri sendiri kok diungkit-ungkit.”

“Aku ikhlas, dik, ikhlas. Tapi, mengapa kok sepertinya ada saja yang kurang dari setiap yang aku lakukan.”

“Mas… mas… Kok bisa kamu bilang begitu? Ya sudah, ini terakhir kali aku memintamu mengantar ke pasar. Sudah urusi saja kerjaan sama teman-temanmu.”

Kang Sules menyerah. Keributan kecil biduknya berpengaruh kepada pekerjaannya. Wajahnya muram. Senyum dan tawanya tampak dipaksakan, ketika teman-teman kerjanya bercanda. Pak Lurah datang menegur.

“Pak Sules, silakan ke ruangan saya sebentar ya.”

“Ehh, iya, iya pak,” Kang Sules terbata menjawab, karena masih larut dalam lamunannya.

“Tutup pintunya ya pak,” Pak lurah meminta Kang Sules ketika sudah berada di ruangannya.

Pak lurah pun mulai mengintrogasi, “Ada apa Pak Sules? Kok tampaknya kurang senang hari ini?”

Kang Sules kaget. Ia ingin menutupi perihal rumah tangganya. Namun, karena berpengaruh kepada kinerja, akhirnya Kang Sules membuka dan menceritakan tentang permasalahan “mengantar ke pasar”.

Pak Lurah mengangguk. “Pak Sules, sekarang begini. Jawab saja pertanyaan saya. Pak Sules apakah masih mencintai istrinya?”

“Tentu saja masih, pak.”

“Baiklah. Pak Sules jam berapa berangkat kerja dan pulangnya jam berapa?”

“Sampai di kantor setengah delapan, pulang jam setengah tiga, pak.”

“Setelah pulang, biasanya Pak Sules apa yang dikerjakan?”

“Makan, istirahat sebentar, lalu pergi ke sawah atau ngarit Pak, sampai menjelang maghrib.”

“Itulah pak. Istri kita adalah anugerah. Kita pulang, istri kurang dapat perhatian. Kita pulang membawa capek. Sementara istri ingin diperhatikan. Berapa jam waktu yang kita sisihkan untuk istri selama sehari? Paling setelah maghrib, isya, jam sembilan atau sepuluh kita sudah tidur.”

Kang Sules diam, mengiyakan.

“Masalah marah ya memang itu bagian dari kehidupan rumah tangga. Lah wong Umar bin Khattab saja pernah dimarahi sama istri, apalagi kita yang cuma umat paling jelata.”

“Jadi, saya harus bagaimana Pak? Terutama tentang mengantar ke pasar. Trauma saya Pak Lurah….”

“Ha-ha-ha-ha. Anggap saja ini perbandingan. Istri Pak Sules, juga istri saya, adalah manajer keuangan paling andal. Bagaimana tidak? Mencari itu lebih mudah daripada menata. Istri Pak Sules pasti bisa menata keuangan berapapun gaji suami. Hebatnya lagi, istri-istri kita pasti punya simpanan keuangan. Bisa menyisihkan untuk ditabung, jaga-jaga kalau ada kebutuhan mendadak. Betul, kan?”

“Ehhmm iya Pak.” Kang Sules teringat wajah Sulastri, cinta sekaligus kagum.

“Istri-istri kita sudah banyak berkorban. Ketika kita bekerja, istri kita sibuk mencuci, setrika, momong anak, bersih-bersih rumah. Kita tahunya asal beres saja! Apalagi kalau ada yasinan atau tahlilan. Istri kita sudah berlelah-lelah dua hari sebelumnya. Masak, menyiapkan ubo rampe, sampai selesaipun harus cuci piring dan perabotan. Sementara para suami, paling banter hanya nggulung tikar.”

Tiba-tiba wajah Sulastri begitu tampak lekat di mata Kang Sules. Ia rindu serindu-rindunya.

“Terakhir, Pak Sules. Istri kita begitu setia. Mulai membuka mata ketika bangun tidur sampai menjelang mapan berusaha untuk tidak lelah. Mereka rela menyediakan diri sebagai anak dari mertua, orang tua kandungnya sendiri, menjadi istri untuk suaminya, juga menjadi ibu untuk anak-anaknya….”

Kang Sules menunduk. Dik Sulastri saat ini pasti sedang menjalankan perannya sendiri. Kang Sules tidak peduli, istrinya adalah amanah yang harus dijaga dengan baik. Ia adalah tulang rusuk. Konflik pasti terjadi, biarlah terjadi. Hadapi saja. Yang penting sayang dan keharmonisan rumah tangganya tetap utuh. Ah, dik Sulastri, I Love you full…

Tinggalkan Balasan