Dilema Konsep Politik Islam dalam Negara Modern (2)

Penyebaran gerakan al-Ikhwan al-Muslimun (IM), sebuah organisasi jama’ah yang didirikan oleh Hassan Al-Bana di Mesir pada 1928, juga turut mensponsori tumbuhnya gerakan revitalisasi politik Islam. Gerakan ini dalam waktu cepat berkembang, tidak hanya di Mesir tapi juga negara-negara Muslim lainnya. Tentunya, dengan berbagai modifikasi gerakan sesuai aspek kultural masing-masing negeri. Namun, ide dan doktrin politik tetap berasal dari elit-elit sentral IM, terutama Hassan al-Bana dan Sayyid Qutb. Muncullah model Hamas di Palestina ataupun National Islamic Front (NIF) di Sudan, dengan tokohnya Hasan al-Turabi. Keduanya berhasil meraih simpati massa Islam dalam proses politik di negaranya.

Di Malaysia, revitalisasi politik Islam muncul seiring dengan berdirinya berbagai gerakan dakwah. Setidak-tidaknya ada tiga kelompok besar yang masing-masing mempunyai model gerakan dan titik-tekan tersendiri; Darul Arqam (sebelum diberangus pemerintah), ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia), serta PAS (Partai Islam se-Malaysia). Ada yang menekankan ketaatan individu pada syariah, ada juga yang menuntut pembentukan pemberlakuan syariat Islam dalam negara.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di Indonesia gelombang revivalisme Islam muncul setidak-tidaknya sejak dekade 1970-an atau 1980-an. Dekade ini dipenuhi membanjirnya buku-buku terjemahan dari Timur Tengah, seperti karya Ali Syariati, Murtdha Muthahhari, Bani Shadr, atau Imam Khomaeni dari Iran. Sementara dari warna IM Mesir banyak diterjemahkan buku-buku karya Hassan Al-Bana, Sayyid Qutb, atau Said Hawa. Buku-buku karya tokoh dari Pakistan juga mendapat perhatian, seperti karya Maududi atau Muhammad Iqbal.

Keberhasilan dan gagasan-gagasan mereka sangat menarik perhatian kaum muda terdidik di Indonesia. Pasca-Reformasi 1998 muncul berbagai kelompok yang disebut Bachtiar Efendy sebagai Islam militan dengan variasi gerakannya masing-masing. Dari mulai partai politik baru semacam PBB (Partai Bulan Bintang sebagai pewaris Masyumi) atau PKS (model IM-nya Indonesia), sampai Ormas baru, misalnya, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ataupun Front Pembela Islam (FPI). Oleh Martin van Bruinessen, fenomena ini disebutnya sebagai conservative turn.

Mengapa bisa timbul fenomena begitu di dunia Islam? Setidak-tidaknya ada tiga faktor utama yang mendukung tumbuh-menjamurnya gerakan revitalisasi Islam. Pertama, pemaksaan diri untuk mengikuti pola dan sistem sekular Barat ternyata tidak lantas membuat negara-negara Muslim yang mengadopsinya itu berkembang maju menyamai negara-negara Barat. Kondisi ekonomi politik justru semakin memprihatinkan. Jurang yang dalam terbentuk antara blok Utara (negara-negara Barat) yang semakin maju makmur dengan blok Selatan (termasuk di dalamnya negara-negara Muslim) yang mayoritas tertinggal.

Tinggalkan Balasan