Satu tamu Rubah muda datang. Ia ditolak karena hanya memiliki satu ekor. Si Ny Rubah ingin Sembilan ekor seperti mendiang suaminya. Tiba Rubah Muda yang lain dengan ekor Sembilan. Ny Rubah girang, memerintah si Pelayan untuk membuang si tua Tuan Rubah. Tapi ketika pernikahan baru saja akan diselenggarakan, si tua Tuan Rubah bergerak di bawah bangku. Menyerang semua tamu dan mengusir Ny Rubah.
Sebenarnya tidak ada yang aneh dalam dongeng atau dianggap menyalahi kehidupan sewajarnya, semestinya. Semua memang berada dalam siklus hukum alam, tapi hukum alam tunduk di bawah kuasa Sang Pencipta. Karena ini berbicara sastra, saya menjadi teringat apa yang dikatakan salah seorang sastrawan Indonesia dalam suatu seminar di mana saya menjadi pesertanya. Ia mengatakan: “Sebenarnya tidak ada yang aneh dari Kambing keluar dari kulkas. Bulan dalam sebuah amplop, dan hal lain yang menurut kita aneh lainnya. Sebenarnya tidak aneh melainkan kita saja yang tidak terbiasa menemui kejadian semacam itu, akhirnya kita menganggap aneh.”

Melalui ceramah salah seorang tokoh agama pun, diungkapkan bahwa kelebihan salah satu Nabi ialah bisa mengeluarkan Unta dari dalam batu. Lalu, bagaimana kehidupan kita yang tidak pernah mengalami hal aneh? Apakah kita perlu memasuki dunia dongeng? Di mana semua kejadian bisa terjadi, seaneh apa pun itu. Barangkali kita pernah mengalami banyak hal aneh, tapi kita tidak mengingatnya, atau kita anggap biasa-biasa saja.
Ternyata, dunia dongeng tidak selalu tentang hal di luar kewajaran. Dongeng Si Lelaki Tua dan Cucunya jadi bukti. Pada zaman dahulu, dongeng dalam buku ini keseluruhan kalimat pertamanya berbunyi demikian, dan ini menjadi ciri khas dari Sastra Klasik Eropa. Hidup seorang Kakek Tua bersama anak lelakinya dan menantu perempuannya, serta satu cucu berumur empat tahun.
Si kakek sudah tuli, lutut gemetaran, dan sendok makan yang dia gunakan makan selalu jatuh. Kaldu yang disantapnya berceceran di atas meja dan menetes ke bawah mulutnya. Putranya dan menantu perempuannya merasa jijik, akhirnya si kakek ditempatkan di belakang kompor. Mangkuknya memakai tembikar. Sewaktu makan mangkuknya jatuh dan pecah, menantu perempuannya mengomeli, menggantinya dengan mangkuk kayu.
