“Apa saja, terutama musik. Kecuali pelajaran, karena motonon dan membosankan.”
“Kalau dongeng?”

“Tentang?”
“Kisah-kisah inspiratif?”
“Oiya, suka.”
Bukankah itu tidak termasuk pelajaran pula? Tapi kenapa kau mau mendengarkan? Aku lalu teringat pada era Walisongo dulu, yang berdakwah dengan cara mengalkuturasikan budaya. Mereka tahu kalau orang Jawa ini kaku dengan hal-hal yang dirasa bersebrangan dengan budaya dan kepercayaan. Dari itulah mereka menggunakan media budaya sebagai upaya mengenalkan Islam. Mereka menyelipkan dalam cerita itu nilai-nilai keislaman.
“Bolehlah aku dongengi kau malam ini.”
“Silakan.”
Aku lalu mendongeng:
“Dulu ada seorang anak muda yang lama belajar pada seorang kiai tapi tidak kunjung paham sedikitpun ilmu. Karena putus asa dan kecewa, ia izin pamit kepada kiainya pulang. Singkat cerita ia pulang. Di tengah jalan, ia diadang hujan. Berteduhlah ia di dalam sebuah goa. Ia duduk di sana sambil memandangi batu yang berlubang karena terus-menerus ditetesi air. Tak disangka ia menemukan pelajaran dari pemandangan itu: batu yang kerasnya seperti itu saja bisa berlubang jika ditetesi air terus menerus, lalu bagaimana dengan hatiku jika terus-menerus ditetesi petuah dan ilmu kiai? Pastilah seperti itu juga!
Dan kau tahu, Sis, dia kembali ke pondoknya dan bicara ke kiainya kalau dia ingin belajar lagi dengan sungguh-sungguh. Kelak, anak muda ini yang mengarang Fathul Bari, kitab penjelas dari kitab Shohih Bukhori.”
“Kitab apa itu?”
“Hadis.”
