“Bapak, Nak. Bapakmu meninggal.. ,” ibunya menjawab dengan suara terisak.
“Mboten Buk!! Bapak dereng seda!” Satrio membantah, menatap tak percaya kepada ibunya.

“Bapakmu sudah meninggal Mas!!” ucap seorang remaja yang merupakan salah satu familinya.
“Berani sekali kau bicara seperti itu!!!” Satrio berteriak sambil memburai tangis.
Beberapa orang tampak menolong Satrio yang tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri. Musibah yang datang tanpa ia sangka-sangka itu telah mengguncang jiwanya. Satu jam berlalu, Satrio mulai sadarkan diri.
“Le, bapak akan dimakamkan setelah Maghrib. Cepat siap-siap,” bisik pakdenya memberitahu.
Satrio mengusap air mata yang tak mau kunjung kering. Pukul enam sore, setelah Maghrib jenazah ayah Satrio diberangkatkan ke makam. Satrio ikut memikul keranda. Sepanjang perjalanan ke makam dia tak kuasa menahan tangis.
“Lailahaillallah, Lailahaillallah, Lailahaillallah,,, .”
Suara itu semakin membuat hati Satrio teriris. Sampai di makam desa, dia menurunkan jasad bapaknya. Ia juga mengumandangkan azan, suaranya bergetar penuh haru.
Malamnya Satrio tak bisa tidur. Ia hanya duduk termenung di pojok kamar dengan mata yang masih sembab karena menangis. Tiba tiba pakdenya masuk ke kamar.
“Loh, kok belum tidur? Sudah jam dua belas lho.”
Satrio tak merespons pertanyaan itu.
“Pakde tahu, hatimu pasti hancur gara- gara kepergian bapakmu. Namanya juga ajal, ora ono seng weruh, kita sebagai manusia hanya bisa menambah bekal sebelum ajal itu datang. Bekal itu adalah salat lima waktu, serta jangan berbuat maksiat,” pakdenya menambahi.
Satrio tetap terdiam sambil menghela napas panjang.
“Wes, saiki sampeyan wudhu terus sholat. Atimu pasti adem,” perintah Pakde.
Satrio memejamkam mata lalu menghela napas panjang.
“Wes Le, lakonono perintahe Pakde,” pakde kembali bersuara.
Satrio menuruti perintah pakdenya. Ia segera ambil wudhu lalu salat malam. Satrio berdoa sebanyak- banyaknya kepada Allah, terutama untuk bapak dan bertaubat atas kebiasaan jeleknya dulu itu.
“Ya Allah, bapak sudah Engkau jemput. Sampai mati pun bapak belum tahu akan rahasia-rahasia keburukanku, tapi Engkau tahu segalanya. Apakah ini balasan dari perbuatan burukku itu? Tetapi mengapa harus bapak yang menjadi korban?” Satrio berkeluh kesah dalam munajatnya.
“Aku sadar, bahwa ini saatnya aku kembali ke jalan yang benar. Ya Allah, jangan Engkau biarkan hamba-Mu ini terus larut dalam kegelapan. Maka tuntunlah hamba Ya Allah.”
Satrio menghela napas.
“Ya Allah, ampunilah dosa bapak, terimalah bapak di sisi engkau Ya Allah, jauhkanlah bapak dari siksa kubur. Aamiin.”
Hari-hari terus berlalu. Luka kesedihan itu perlahan-lahan mengering. Hari-hari pun kembali seperti biasa, dan kebiasaan buruk itu kadang kala masih kambuh lagi.
Satrio tengah bersantai di ruang tamu, tiba-tiba ada suara ketukan pintu terdengar di rumah Satrio, ada seseorang yang datang.
“Assalamualaikum.”
Satrio tak menyahut.
“Assalamualaikum Satrio,” seseorang itu mengulang salam sambil mengetuk pintu lagi. Kali ini Satrio membukakan pintu.
“Waalaikumsalam. Ya ampun!! Akbar!! Lama tak jumpa, mari masuk,” dia mengajak masuk tamu yang ternyata sahabat lamanya saat SMP itu. Mereka lantas duduk di kursi ruangan yang cukup luas itu.
“Lama tak jumpa, sepertinya sekarang kamu menjadi dokter beneran, Bar?” Satrio memulai perbincangan.
“Belum jadi dokter beneran Yo, mungkin setahun atau dua tahun lagi. Aku masih belum selesai kuliah sekarang. Doakan saja,” Akbar menjawab jujur.
“Kukira kau dulu hanya bergurau saat bilang ingin jadi dokter, Bar,” Satrio bergurau.
“Aku tidak ingin menggadaikan masa depanku dengan berfoya-foya. Masa depan terlalu berharga untuk diganti dengan kesenangan sesaat, Yo.”
