“Sebenarnya kau kuliah jurusan kedokteran apa dakwah sih Bar? Bagus banget kultum-nya,” celetuk Satrio.
“Ha-ha-ha, ada-ada saja kamu,” sahut Akbar. “Ngomong-omong, aku ikut berduka banget atas wafatnya ayahmu, Satrio. Maaf kemarin nggak bisa takziyah, lagi sibuk-sibuknya kuliah.”

“Makasih, Bar. Tidak apa-apa, doakan saja bapakku tenang di alam sana.”
Akbar mengiyakan sambil menganggukkan kepala. Satrio kemudian beringsut ke belakang. Tanpa bertanya, dia sudah membuatkan Akbar teh tawar.
“Ha-ha-ha. Ternyata kau masih ingat, minuman kesukaanku, Yo.”
“Tentu saja aku ingat Bar, kau selalu minum ini. Sebenarnya aku mau ambilkan bir tadi, tapi kemudian aku ingat kau adalah calon dokter yang tak mungkin mau meminumnya.”
“Kau masih suka minum bir memangnya Yo?” tanya Akbar.
Satrio mengangguk kemudian menunduk hingga lama.
“Aku tahu Satrio, kau tahu bahwa itu kebiasaan yang jelek. Mungkin kamu sudah ada niat untuk berubah. Apakah kau belum bisa untuk meninggalkan kebiasaan jelek itu?”
“Aku memang sudah ada niat Bar, tapi susah untuk melakukannya.”
“Kalau berkenan, aku mau membantumu keluar dari kebiasaan itu.”
“Tapi ini susah sekali Bar, sangat susah,” Satrio mengeluh.
“Sebenarnya aku hanya bisa membantumu dengan memberikan edukasi soal ini, tapi temanku yang seorang psikolog bisa ikut membantumu lebih. Dia juga seorang keturunan kyai yang bisa merehabilitasi pecandu sepertimu ini. Jadi bagaimana?” tanya Akbar.
“Dengan senang hati, kawan. Akan kucium kakimu jika mampu menyembuhkan aku.”
“Kuterima tantanganmu, Satriyo, kau akan mencium kakiku suatu saat nanti.”
Mereka lantas tergelak dalam tawa.
Waktu pun terus berlalu, hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tidak sampai hitungan tahun Satrio telah dapat merasakan perubahan dalam dirinya. Kini dia sudah rajin salat dan telah dinyatakan sembuh dari candunya.
Suatu sore ia sedang mengaji Al-Qur’an di ruang tamu. Bersamaan dengan dengan itu datanglah seorang tamu yang tidak lain adalah Akbar, temannya.
“Aku turut berbahagia mendengar perubahan dalam dirimu, kawan,” ucap Akbar sembari melebarkan senyum bahagia.
“Terima kasih bantuannya, Bar. Aku sudah merasa lebih baik sekarang.”
“Alhamdulillah. Hmm, apa kau masih ingat pada janjimu itu?” tanya Akbar lagi.
“Janji apa?” Satrio memang benar-benar lupa janji apa yang dimaksud Akbar.
“Kau akan mencium kakiku jika berhasil sembuh,” Akbar menyeringai.
“Apa-apaan, kan yang menyembuhkan bukan kamu. Kalau harus mencium kaki, ya bukan kakimu-lah, kakinya Gus Ipul!” Satrio meninggikan volume suaranya.
“Setidaknya kau ciumlah tanganku, aku sudah membantumu ha-ha-ha!”
“Gila hormat kau ternyata, Bar!”
Tiba-tiba Akbar menunduk dan mukanya berubah nelangsa.
“Aku hanya iri padamu, Yo. Belum setahun kau rehab sudah sembuh, aku hampir dua tahun masih belum bisa juga melupakan pil setan itu.”
Ruangan itu seketika senyap.
“Jadi, selama ini kau….”
