Ruangan luas dengan meja besar di tengah itu terasa menegangkan. Pendingin ruangan tak membuat peluh di dahi menjadi surut.
“Ah, sialan! Kenapa aku kalah lagi?”

Suasana malam yang gerah itu semakin menyebalkan.
“Ha-ha-ha, kau memang penjudi amatiran Satrio! Uangmu tiga juta dua ratus aku ambil.”
“Terserah kau, bodoh! Ambil saja.”
Pemuda yang kalah judi itu adalah Satrio, putra dari seseorang yang cukup terpandang di desanya. Dia punya dua kepribadian sekaligus, tapi orang-orang di desanya hanya mengenal sifat baiknya. Mereka tidak tahu-menahu soal sifat buruk Satrio; bahwa dia adalah pemabuk dan penjudi. Bahkan orang tuanya saja tak tahu soal itu.
Soal merahasiakan borok memang keahliannya. Biarlah dia buruk di matanya sendiri, tapi jangan di mata orang lain, begitu dia pernah bilang. Dan kekalahan-demi kekalahannya dalam berjudi beberapa hari ini membuatnya merasa jengkel.
“Ah, kenapa aku selalu kalah?”
“Sabar Satrio, namanya juga permainan judi, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Nah, daripada mengeluh terus seperti itu, mending kamu minum bersamaku,” Bima menggodanya. Pemuda berbadang bongsor itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Tumben sekali kamu nraktir, biasanya aku terus, Bim. Tapi bukan alkohol murahan, kan?” tanya Satrio.
“Tentu saja bukan, buat apa kita minum alkohol murahan? Hari ini pelangganku cukup banyak, jadi hari ini aku bawa whiskey. Kau pasti suka!”
“Ha-ha-ha… kau memang sialan, mentang-mentang banyak uang, berlagak sekali kamu!” Satrio berseru.
Di situ juga sudah ada Dimas. Dia adalah kurir narkoba (tapi ini rahasia). Entah dia menggunakan ilmu apa agar bisa lolos dari pemeriksaan saat dia melancarkan aksinya. Seperti Bima, Dimas ternyata juga membawa rezeki.
“Hei Satrio, kau mau sesuatu yang lebih spesial?” tanya Dimas.
“Apa?” Satrio bertanya balik. Lalu Dimas mengeluarkan sesuatu dari kantung kemejanya; sesuatu itu adalah serbuk putih yang diwadahi dengan plastik klip.
“Ha-ha-ha… kenapa banyak sekali setan malam ini? Hmm, sekali-sekali aku ingin mencobanya,” tukas Satrio.
Kehidupan Satrio bertambah buruk lagi. Setelah kecanduan judi dan miras, kini ia menjadi pengguna narkoba. Dia masih berumur 20 tahun, dan seperti apa masa depannya nanti? Lingkaran teman-temannya ini selalu merantainya untuk tetap bersama.
Itulah kehidupan Satrio, pagi sampai sore bekerja, malamnya minum dan berjudi. Sebenarnya jauh di lubuk hatinya ia merasa begitu terpuruk telah larut dalam pergaulan yang hitam, tapi teramat sulit baginya untuk keluar dari pergaulannya itu. Dunia kegelapan telah menjadi candu baginya.
Suatu saat terbersitlah keinginan untuk pulang kampung. Tepat pada hari minggu ia pulang untuk menjenguk orang tuanya. Jaraknya tak terlalu jauh, hanya sekitar 35 kilometer dari kota. Tiba tiba gawai dalam saku bajunya bergetar tatkala ia masih berkemas pulang.
“Kriiingggg…”
“Kriiingggg… .”
“Iya halo…” Satrio jawab telepon itu.
“Ndang mrene Satrio, Bapak dan Ibumu sudah menunggu,” ucap orang di ujung telepon.
Hingga beberapa menit kemudian suara itu tida dijawab oleh Satrio.
“Ada apa Pakde?”
“Yang penting kamu pulang.”
“Nggih Pakde, segera berangkat, ” Satrio menjawab setelah pakdenya itu tak kunjung mau menjawab secara jelas alasan dia diminta segera pulang. Dan, saat itu juga firasatnya tak enak, “Apa yang terjadi?” dengusnya.
Pemuda itu beres-beres dengan sangat buru-buru. Dan tidak berapa lama kemudian Satrio telah sampai di rumah.
“Kenapa ramai orang?” bisik Satrio. Dia berlari menyibak keramaian.
“Pak!! Bukk!!” pemuda itu berlari langsung masuk ke dalam tanpa mencopot alas kaki. Di situ dia melihat ibunya yang sedang menangis tergugu.
“Buk, wonten nopo niki?? Sinten tiang kang sampun dikafani niki??”
