Dunia internet telah merampas kemampuan sebagian besar masyarakat untuk berpikir secara konsentratif, reflektif, dan kontemplatif. Terlebih ketika melihat karakter warganet yang membaca judul berita tanpa tahu kontennya, serta mudah membagikan berita tanpa proses verifikasi terlebih dahulu. Banjir informasi membuat orang menjadi bingung dan justru malas berpikir. Akibatnya, informasi yang ada cenderung tak berguna, membingungkan, dan merusak tata hidup bersama.
Dalam peran agama, internet menjadi ajang “perang” mazhab atau ideologi. Gerakan santri digital gencar dikampanyekan ke pondok-pondok pesantren ketika banyak akidah dan amalan yang disesatkan (dibidahkan). Ulama dan kiai menjadi korban kebrutalan Islam modern yang dengan mudah menuduh liberal, kafir, dan sumpah serapah lainnya.

Ketidaksehatan iklim dunia internet membawa sikap patriotisme santri tampil di ruang digital (publik). Mendirikan berbagai platform digital yang mewadahi santri untuk berkarya dan berliterasi. Mempopulerkan gagasan Islam toleran, moderat, dan santun. Santri semakin aktif berjejaring sosial dan membungkam narasi takfirisme yang didoktrinkan kepada generasi milenial.
Dalam konteks ini, duniasantri.co merupakan salah satu platform yang menanungi santri dan alumni pondok pesantren dalam menuangkan gagasan tentang dunia kepesantrenan, nasionalisme (kebangsaan), dan toleransi. Namun, butuh gerakan masif untuk lebih mengenalkan platform ini ke jejaring media sosial. Sebab, media sosial bukan lagi berfungsi sebagai media komunikasi jarak jauh, namun bisa menjadi alat kampanye ideologi.
Saya belum melihat geliat duniasantri.co di media sosial. Berbagi pengalaman saya menggagas komunitas Seniman NU, fungsi media sosial yang lebih sering diakses generasi milenial lebih mudah menjangkau masayarakat luas melalui narasi kritis penulis. Selain itu juga menjadi pondasi kuat mengangkat eksistensi media (website) melalui kuantitas pengunjung artikel.
