Namun, hal-hal semacam itu tidak bisa juga dijadikan alasan utama, karena bisa jadi semua itu penyebabnya ada di kesalahan pribadi yang memang tidak menyukai literasi. Para santri terdahulu yang telah berhasil menjadi ulama-ulama besar dan berpengaruh di daerah sekitarnya adalah bukti bahwa di tengah keterbatasan, mereka mampu meningkatkan semangat literasi. Berkat kegigihannya tersebut mengantarkan mereka mampu mewujudkan impiannya. Oleh karenanya membangun semangat literasi di kalangan santri harus menjadi perhatian kita semua.
Ada beberapa usaha yang dapat dilakukan dalam membentuk semangat literasi di kalangan santri, di antaranya adalah, pertama, menyediakan fasilitas tempat membaca. Usaha ini dapat dikatakan sangat penting untuk diwujudkan. Sebab, dengan adanya tempat yang layak bagi santri untuk mengakses buku bacaan, maka semangat literasi akan tumbuh. Apalagi jika buku yang tersedia sesuai dengan kebutuhanya pasti keinginannya dalam membaca juga semakin meningkat. Hal ini juga akan mempengaruhi kemampuan santri dalam menulis. Sebab, membaca adalah bahan bakar utama dalam menulis. Jika banyak membaca, maka menulis akan mudah dilakukan.

Kedua, memberikan ruang publikasi karya santri. Seseorang yang telah semangat menulis akan lebih semangat lagi jika tulisannya dapat dipublikasikan baik ke dalam buku, majalah, koran, dan lain-lain. Untuk itu, pesantren mesti mampu mengambil peluang dari berbagai media yang menerima tulisan atau bisa juga dengan membuat buku karya santri secara bersama, misalnya website pesantren yang diisi dengan berbagai karya santri. Percayalah, jika usaha ini dilakukan semangat literasi santri terutama dalam hal menulis akan semakin meningkat.
