Persoalan yang terjadi di pesantren, adalah jawaban yang saya kira akan menjawab tantangan masa depan. Kelahiran duniasantri saya rasa mampu menyeimbakan ketekunannya di dalam mengembangkan bakat dan minat santri dalam berkarya. Entah berkarya dalam bentuk cerpen pesantren, diksi puisi bertemakan santri, atau pun kebiasaan santri-santri di pondok pesantren.
Beberapa minggu belakangan ini, saya sedikit bincang-bincang dengan A Warits Rovi, yang merupakan penulis produktif di media-media nasional dan juga kontributor duniasantri. Beliau juga senior saya di ruang lingkup dunia kesusastraan Indonesia. Saya bertanya tentang duniasantri. Baru saja mendengar ucapan saya tentang duniasantri, beliau malah menjawab pertanyaan saya dengan satu pertanyaan dengan jawaban-jawaban yang x panjang y dikali lebar.

Jawabannya seperti ini: keteguhan dan kegigihan media duniasantri memang sungguh luar biasa. Beda dengan media lain yang biasanya hanya memuat satu-dua karya dalam sepekan. Bahkan duniasantri mampu menjawab semua tantangan (zaman) yang secara nilai eksistensial, medianya dapat menggambarkan semesta pendidikan pesantren sebagai jejak pendakian gunung di puncak pijakan yang paling tinggi.
Saya sedikit menyambung apa yang beliau jawab. Jawaban saya begini: pada dasarnya, santri adalah contoh yang hakiki. Karena apa, karena di sanalah duniasantri hadir untuk mengungkap tabir keistimewaan yang dimiliki santri di portal digital duniasantri, yang saya pikir tahan banting di masa kini dan masa depan. Yang awalnya santri tidak terungkap kebaikannya, tapi dengan adanya duniasantri, segala aspek kultur dan norma budaya pesantren tertampung semuanya di duniasantri.
Hal itu sekadar kesimpulan bincang-bincang saya dengan A Warits Rovi beberapa hari yang lalu . Ternyata, setelah dipikir-pikir, saya tak habis pikir akan keistikamahan dan kerendahan hati duniasantri. Baik dari konteks segalanya maupun semangat perjuangannya untuk menghidupi santri penulis. Atau peduli penulis santri.
