Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah ayat 30)
Setidaknya, dari ayat tersebut, sekaligus dari pernyataan Gus Fayyadl, kita bisa belajar lebih baik lagi untuk menghargai makhluk lain. Kita tidak boleh egois, perlu dipikirkan secara matang sebelum akibat dari apa yang kita lakukan berdampak pada kita sendiri pada akhirnya. Lebih baik, mencegah daripada mengobati.

Ingat, kita tidak hidup sendiri, melainkan hidup dengan makhluk lain. Oleh karena itu, sebagai manusia yang bergantung pada alam, seharusnya bisa membatasi diri untuk tidak merusak alam yang kita tempati.
Saya masih ingat, pada tahun 2015, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengharamkan ekploitasi sumber daya alam di Indonesia. Tetapi hari ini, PBNU justru berterima kasih karena presiden mengizinkan organisasi massa keagamaan ini ikut bermain di tambang. Padahal, saya juga masih ingat, beberapa kasus yang terjadi karena persoalan agraria hingga terjadi pembunuhan.
Seseorang pun bertanya pada Gus Fayyadl, apa bisa kita menghadapi kekuatan-kekuatan besar itu? Beliau pun menjawab; Bisa, asalkan kita tetap maju, sebagai warga NU, kita harus bangkit, bangkit itu berarti melawan ketakutan diri kita sendiri untuk membela kebenaran, walaupun itu tidak mudah. Di situ kita saling menyemangati.
