ايُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا,إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا
Artinya: “Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Jika kamu menyatakan sesuatu kebajikan, menyembunyikannya, atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sungguh, Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa.”

Terdapat enam pola etika dalam Al-Quran yang dapat dijadikan pedoman dalam berkomunikasi. Pertama, qoulan balighan (berkomunikasi secara efektif). Perkataan ini, Allah memerintahkan untuk berbicara secara efektif dan melarang untuk berbicara yang bertele-tele. Perkataan yang efektif adalah perkataan yang disampaikan selalu membekas pada seseorang dan pesan yang disampaikan tepat sasaran.
Kedua, qoulan maisuran (perkataan yang logis, mudah dipahami dan dimengerti). Dalam berkomunikasi, Islam bertujuan untuk mendekatkan Tuhan dengan hamba-Nya. Penolakan permintaan tidak boleh dengan menyinggung perasaan orang lain.
Kita sebagai seorang komunikator, misalnya, hendaknya mampu menampilkan sesuatu yang disukai orang lain dengan sikap empati dan simpati. Sebagian besar, sikap simpati jauh lebih diinginkan dalam berkomunikasi; sedangkan empati membutuhkan kemampuan untuk membaca situasi orang lain.
Ketiga, qoulan karima (perkataan yang baik, sopan santun, lemah lembut dan berakhlak mulia). Komunikasi yang baik tidak dinilai dari tinggi rendahnya jabatan seseorang, tetapi dinilai dari perkataannya.
