Etika Menyikapi Perbedaan

Jangan karena kita tahu bahwa 6+3=9, kemudian kita menyalahkan orang lain yang memodel penjumlahan dengan cara 4+5=9, 2+7=9, 3×3=9, dan 27:3=9. Ada banyak jalan untuk menuju satu tujuan. Jalan yang kita lalui tidak wajib dilewati orang lain, sebagaimana jalan orang lain yang juga tidak wajib kita lewati. Yang terpenting adalah kita memahami rambu-rambu menuju arah yang akan dituju. Rambu-rambu begitu banyak dan kadang menawarkan alternatif-alternatif.

Ahmad Imam Mawardi dalam buku Selamat Tinggal Tangisan, Selamat Datang Senyuman, mengatakan, “Kalau semua orang yang berbeda pendapat dengan Anda kemudian Anda menganggap mereka sesat, maka begitu banyak orang yang Anda putuskan dan tetapkan untuk masuk neraka. Pertanyaannya adalah Anda itu siapa kok berani-beraninya menempati posisi Allah sebagai penentu dan pemutus akhir setiap perilaku makhluk-Nya.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Memang benar. Jika semua orang yang tidak sepaham dengan kita, kemudian kita anggap mereka musuh, maka betapa banyak musuh kita di dunia ini. Jika semua orang yang tidak sejalan dengan kita, lalu kita nyatakan mereka adalah orang yang mengada-ada, maka betapa banyak orang yang dilecehkan kemuliaan dan harga dirinya.

Kita patut membuka mata dan telinga untuk melihat dan mendengar berita dunia, agar kita tahu di luar sana ada banyak sekali orang yang bukan hanya tidak sepaham dengan kita, tetapi juga tidak paham dengan apa yang kita pahami.

Ketika kita melihat seorang laki-laki keluar dari diskotik di saat tengah malam sambil menggandeng tangan seorang wanita muda, kemungkinan besar kita menyangka bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang tidak baik perangainya. Padahal, laki-laki itu adalah seorang ayah yang sangat peduli kepada putrinya. Ia mencari putrinya sepanjang hari. Ternyata putri yang diajak paksa oleh temannya itu ditemukan di sebuah diskotik. Kita telah salah paham.

Tinggalkan Balasan