Fatihah dari Ibu

Di kota yang tak pernah benar-benar tidur itu, Farhan hidup di antara suara kendaraan, gedung-gedung tinggi, dan jadwal kerja yang selalu terasa sempit. Ia bekerja di sebuah perusahaan konstruksi yang menuntutnya berpindah dari satu proyek ke proyek lain. Hari-harinya dipenuhi rapat, laporan, dan telepon yang hampir tak pernah berhenti berdering.

Di sela kesibukan itu, ada satu nomor yang sesekali muncul di layar ponselnya nomor rumah di kampung. Nomor itu milik ibunya. Setiap kali Farhan sempat menjawab, percakapan mereka hampir selalu sama. “Farhan sehat, Nak?” suara ibunya selalu terdengar lembut, seperti angin yang melewati halaman rumah mereka di desa. “Sehat, Bu. Ibu sendiri bagaimana?” “Ibu baik. Jangan lupa makan, ya.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Percakapan itu jarang panjang. Farhan sering sedang terburu-buru. Kadang ia menjawab sambil membuka laptop atau menandatangani dokumen. Namun sebelum telepon ditutup, ibunya selalu mengucapkan satu kalimat yang sama. “Ibu kirim Fatihah untukmu.” Farhan biasanya hanya tersenyum kecil.

“Iya, Bu. Terima kasih.” Setelah itu telepon berakhir, dan Farhan kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan kalimat itu. Baginya, itu hanya cara sederhana seorang ibu menunjukkan perhatian.

Waktu berlalu cepat di kota. Proyek baru datang silih berganti. Farhan semakin jarang pulang ke kampung. Bahkan pada hari raya, ia pernah sekali memilih tetap tinggal di kota karena pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Ibunya tidak pernah mengeluh.

Ia hanya berkata, “Kalau belum bisa pulang, tidak apa-apa. Ibu kirim Fatihah saja untukmu dari sini.” Farhan selalu merasa semuanya baik-baik saja. Ia mengirim uang setiap bulan. Rumah di desa sudah diperbaiki. Kebutuhan ibunya tidak pernah kekurangan. Dalam pikirannya, itulah bentuk bakti yang cukup.

Suatu sore, telepon dari rumah kembali datang. Farhan baru saja keluar dari ruang rapat. Suara ibunya terdengar lebih pelan dari biasanya. “Farhan sedang sibuk?” “Sedikit, Bu. Ada apa?”

“Ibu cuma ingin dengar suara kamu.” Farhan menoleh ke arah jam dinding. Ia masih punya beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. “Ibu sehat, kan?”

“Iya, Nak.” Beberapa detik mereka terdiam.

Seperti biasa, sebelum menutup telepon, ibunya berkata, “Ibu kirim Fatihah untukmu.” Farhan menjawab singkat, lalu telepon berakhir. Ia tidak tahu bahwa percakapan itu akan menjadi salah satu yang terakhir. Beberapa minggu setelah telepon itu, Farhan menerima pesan dari tetangganya di desa. Ibumu sedang sakit. Kalau sempat, pulanglah.

Farhan membaca pesan itu di sela kesibukan proyek yang sedang memasuki tahap penting. Ia menatap layar ponselnya cukup lama. Ia berniat pulang akhir pekan itu. Namun rapat mendadak datang. Laporan harus selesai. Klien dari luar kota juga dijadwalkan datang. Akhir pekan itu berlalu tanpa perjalanan pulang. Farhan mencoba menenangkan dirinya. Ibu pasti tidak apa-apa. Ia mengirim uang lebih banyak bulan itu dan berencana pulang minggu berikutnya. Namun minggu berikutnya juga dipenuhi pekerjaan.

Pada malam yang sunyi di apartemennya, Farhan kadang teringat rumah di desa teras kecil tempat ibunya duduk sore hari, suara ayam di halaman, dan aroma masakan yang selalu menyambutnya ketika pulang. Kenangan itu datang sebentar lalu pergi lagi, tenggelam dalam kesibukan kota.

Suatu malam, ia mencoba menelepon rumah. Tidak ada jawaban. Ia mencoba lagi keesokan harinya. Tetap tidak ada jawaban. Perasaan aneh mulai tumbuh di dadanya, tetapi ia berusaha mengabaikannya.

Kabar itu datang pada pagi yang mendung. Telepon berdering saat Farhan baru saja tiba di kantor. Nomor yang muncul adalah nomor tetangganya di desa. “Farhan… kamu harus pulang,” suara di ujung sana terdengar berat. “Kenapa?” Beberapa detik hening. “Ibumu meninggal tadi subuh.” Kalimat itu jatuh seperti sesuatu yang tak bisa ia tangkap. Farhan berdiri terpaku di tengah ruangan.

“Apa…?”

“Beliau sakit beberapa hari ini. Kami sudah mencoba menghubungimu.”

Suara di telepon terus berbicara, tetapi Farhan hampir tidak mendengarnya lagi. Ia hanya ingat satu hal, ia belum sempat pulang.

Perjalanan ke desa terasa lebih panjang dari biasanya. Ketika Farhan akhirnya tiba, rumah itu sudah dipenuhi orang-orang yang datang melayat. Ia berjalan pelan masuk ke dalam. Di ruang tengah, ibunya terbaring tenang, tertutup kain putih. Farhan berlutut di sampingnya. Tangannya gemetar ketika menyentuh ujung kain itu.

“Ibu…” suaranya hampir tak terdengar.

Kenangan-kenangan kecil tiba-tiba datang bertubi-tubi, suara ibunya memanggilnya waktu kecil, tangan yang menyisir rambutnya sebelum sekolah, dan kalimat yang selalu diucapkan di akhir telepon. Ibu kirim Fatihah untukmu. Air mata Farhan jatuh tanpa bisa ditahan. Untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar kehilangan sesuatu yang selama ini ia anggap selalu ada.

Setelah pemakaman selesai, sore itu Farhan berjalan sendirian ke makam ibunya. Tanah merah masih tampak baru, dan bunga-bunga tabur belum layu. Angin desa berhembus pelan. Farhan duduk di samping makam itu cukup lama tanpa berkata apa-apa. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya. Dengan suara yang pelan, ia mulai membaca Surah Al-Fatihah.

Kata demi kata keluar perlahan. Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika ia membacanya sekarang sesuatu yang dulu tidak pernah benar-benar ia rasakan. Ia teringat kembali semua kalimat ibunya di setiap akhir percakapan. Ibu kirim Fatihah untukmu. Tiba-tiba Farhan menyadari sesuatu.

Selama ini ia berjalan jauh di kota, menghadapi banyak kesulitan, tetapi selalu ada jalan keluar. Ia sering lolos dari masalah yang hampir menjatuhkannya. Mungkin, tanpa ia sadari, ada doa yang terus menyertainya dari jauh. Doa seorang ibu.

Farhan menatap nisan sederhana itu dengan mata yang masih basah. “Sekarang, aku yang kirim Fatihah untuk Ibu,” bisiknya.

Langit desa mulai berubah jingga. Suara burung kembali ke sarang terdengar dari pepohonan di sekitar pemakaman.

Farhan berdiri perlahan. Ia tahu satu hal yang pasti, doa yang pernah dikirim ibunya tidak pernah benar-benar berhenti.

Doa itu hanya berpindah tempat dari bibir seorang ibu yang penuh kasih, ke hati seorang anak yang baru belajar mengerti arti rindu.

Puasa, 2026.

Sumber ilustrasi: freepik.

Tinggalkan Balasan