Feminisme Sufistik dalam Kehidupan Pesantren

Kemudian dipertegas dalam dialog: “Menjadi perempuan pesantren tidak pasti tentang perjodohan satu sisi kan, Buk?” Lalu dijawab oleh Gus Ali, kakak pertama Safaa, “Ya, kamu hidupnya di pesantren. Misal kamu hidup di bumi, kamu ya harus menaati tata aturan di bumi.” (hlm. 24)

Berlatar di pesantren daerah Yogyakarta dan Demak, tentu banyak ditemukan struktur dan tata bahasa yang menggunakan pencampuran Bahasa Jawa dan istilah-istilah yang akrab dalam kehidupan pesantren.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Safaa, seorang perempuan yang memiliki karakter keras dan tegas dihadapkan sebuah dilema antara memilih lelaki yang dicintai atau memenuhi permintaan abahnya untuk menikah dengan lelaki yang belum dikenalnya. Ia bersikeras menolak, sebab baginya cinta adalah membebaskan, bukan mengikat. Akan tetapi, keadaan yang semula memaksa Safaa menjalani mahligai pernikahan bukan dengan lelaki yang dicintainya, pada akhirnya membuat Safaa mengerti, bahwa takdir tidak pernah salah. Allah hanya menuntun bahagia dengan jalan berbeda.

Terlepas dari eksotisme romansa yang dibalut kehidupan sosial-keagamaan kaum pesantren, agaknya Navahal justru terperangkap dalam senandika yang terkesan berceramah. Tentu cerita semacam ini kurang menarik. Selain itu, adanya perpindahan peristiwa yang terlalu cepat. Seperti halnya ketika terjadi pernikahan Safaa dengan lelaki pilihan abanya, Navahal melompati begitu saja peristiwa tersebut. Ia hanya memberi keterangan yang menyiratkan pernikahan itu telah terjadi, tanpa mengisahkan secara gamblang.

Lalu, catatan untuk editor, bahwasanya teks novel masih banyak yang perlu dikoreksi. Seperti penempatan tanda baca yang kurang diperhatikan, sebab masih banyak ditemui kalimat yang tidak bertanda baca. Catatan tersebut memang tidak substantif. Meski demikian, bisa dijadikan perhatian dalam buku cetakan mendatang.

Tinggalkan Balasan