Pesantren eksis sebagai sebuah lembaga pendidikan tua yang terus berkembang melewati mesin waktu antarzaman. Perjalanannya yang begitu panjang menjadikan pesantren hidup berdampingan dengan segala problematika manusia dari masa ke masa. Proses adaptasi yang begitu sulit tak jarang membuat pesantren runtuh, namun banyak juga yang bertahan. Tak ayal, banyak hal yang bisa digali dan dicermati sebagai sebuah pengetahuan. Entah itu pengetahuan lama ataupun baru, pesantren selalu menawarkan banyak ilmu untuk dikembangkan menjadi sebuah ilmu pengetahuan.
Sebagai sebuah subkultur, pesantren memiliki nilai budaya yang saling berebut hulu hilirnya dengan kebudayaan di luar pesantren. Ruang yang tipis antarkeduanya menjadikan nilai budaya di pesantren hidup dalam lingkungan masyarakat luas. Pun sebaliknya, pesantren menyerap banyak hal dalam masyarakat untuk dijadikan tolak ukur dalam membumikan nilai-nilai Islam sehingga dapat membumi dan diterima oleh masyarakat.

Timbal balik antarkeduanya yang saling berpegang erat memunculkan keunikan budaya tersendiri dibandingan dengan budaya lainnya. Sebut saja tradisi lisan pesantren. meskipun tidak ada definisi yang ajeg mengenai tradisi lisan pesantren, mari kita mulai memperbincangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa hadir dalam kemunculan tradisi lisan pesantren.
