Dalam perjalanan intelektual dan spiritualnya, Kiai Hadi tumbuh dalam tradisi pesantren yang menjaga mata rantai sanad ulama Nusantara hingga Haramain. Jejak keilmuan itu bertaut kepada Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Mahfuzh al-Termasi, dua poros penting tradisi keilmuan pesantren di Indonesia.
Memasuki tahun 2013, pengajian mulai menjangkau masyarakat lebih luas. Metodenya sederhana: pengajian keliling dari rumah ke rumah. Tidak ada panggung besar. Tidak ada spanduk penuh sponsor. Yang ada hanya tikar, teh hangat, dan percakapan agama yang berlangsung akrab sambil sesekali diselingi guyonan khas kampung dan khas santri.

Rentang 2014 hingga 2017 menjadi masa perjuangan yang penuh kesabaran. Dar el-Fikr ketika itu belum memiliki masjid resmi sebagai pusat kegiatan. Tetapi justru dalam kesederhanaan itulah tradisi turats mulai dihidupkan secara istikamah. Bersamaan dengan itu, budaya menulis perlahan diperkenalkan sebagai bagian dari pembentukan intelektual santri.
Dan dari Kiai Hadi pula kami, para panitia Festival Dunia Santri 2026, bukan hanya diizinkan menggunakan pesantrennya sebagai tempat pelatihan jurnalistik dan penulisan kreatif. Lebih dari itu, beliau membuka banyak pintu silaturahmi. Salah satunya dengan menganjurkan kami sowan kepada KH Abuya Muhtadi Dimyati Banten, yang juga merupakan guru sekaligus mursyidnya Kiai Hadi. Kami sowan ke kediaman Abuya di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Pandeglang, Banten.
Kami tiba di kediaman beliau malam hari, 11 April 2026. Buya menerima kami dengan wajah cerah dan guyonan khas ulama khos yang membuat nasihat terasa ringan meski diam-diam menghunjam batin. Obrolan mengalir ke mana-mana: pesantren, santri, politik, sampai soal bagaimana anak-anak muda hari ini menghadapi zaman yang terus berubah dengan cara yang kadang membuat kami sendiri kebingungan.
Tetapi menjelang kami pamit, ketika kami meminta swafoto, tiba-tiba beliau meminta seorang santri mengambilkan pakaian kesayangannya: seragam Gerakan Pemuda Ansor.
Melihat Buya mengenakan seragam itu, pikiran saya justru melayang ke tahun 1934, ketika KH Abdul Wahab Hasbullah merintis organisasi kepemudaan yang kemudian menjadi salah satu badan otonom penting NU: Ansor. Ketika itu, Kiai, panjenengan melihat umat Islam Bumiputera tertinggal dalam pendidikan, organisasi, dan pergaulan modern di bawah kolonialisme Belanda.
Panjenengan tampaknya sadar sejak awal bahwa penjajahan tidak hanya berlangsung lewat senjata dan kekuasaan, tetapi juga lewat keterbelakangan berpikir. Karena itulah panjenengan mendirikan Taswirul Afkar: sebuah ruang pergolakan pemikiran agar santri tidak hanya pandai mengaji, tetapi juga mampu membaca dunia.
Di masa ketika sebagian besar rakyat bumiputra bahkan belum akrab dengan tradisi diskusi modern, panjenengan justru mengumpulkan anak-anak muda pesantren untuk berbicara tentang pendidikan, kebangsaan, kolonialisme, dan masa depan umat Islam. Panjenengan tampaknya tidak ingin santri terus-menerus berada di pinggir sejarah.
Dan rupanya kegelisahan itu tidak berhenti di Taswirul Afkar. Panjenengan kemudian melahirkan gerakan-gerakan kaderisasi seperti Syubbanul Wathan hingga Ansor. Sebab panjenengan memahami satu hal penting: umat yang tidak menyiapkan generasi mudanya akan mudah tertinggal, bahkan mudah tercerai-berai oleh kepentingannya sendiri.
Karena itu Ansor, dalam pandangan panjenengan, bukan sekadar organisasi pemuda. Ia adalah ikhtiar membangun keberanian berpikir, keberanian berorganisasi, dan keberanian mencintai tanah air. Sebuah gerakan agar anak-anak muda Nahdliyin tidak minder menghadapi modernitas, tetapi juga tidak tercerabut dari akar pesantrennya sendiri.
Ucapan Buya malam itu terdengar sederhana, tetapi seperti menyimpan kegelisahan panjang. Seolah-olah ada rasa sedih melihat sebuah gerakan yang dahulu lahir untuk membangkitkan martabat umat, justru kadang melemah bukan karena serangan dari luar, melainkan oleh kepentingan-kepentingan kecil di dalam dirinya sendiri.
Padahal sejak awal, Kiai, panjenengan membangun gerakan-gerakan itu bukan untuk rebutan jabatan atau kebanggaan memakai seragam. Panjenengan membangunnya agar santri memiliki martabat intelektual, keberanian sosial, dan kesadaran kebangsaan yang kuat di tengah tekanan kolonialisme.
Dan entah mengapa, malam itu saya merasa: mungkin sebuah gerakan tidak benar-benar runtuh ketika diserang dari luar. Ia perlahan melemah ketika mulai lupa pada cita-cita dan kegelisahan yang dahulu melahirkannya.
Depok Terluar-Yogyakarta, 2026.
