Festival Dunia Santri 2026 (2): Kepada KH Abdul Wahab Hasbullah

***

KH Buya Muhtadi Dimyati (berjaket Ansor).

Kiai, setelah beberapa hari membaca ulang jejak panjenengan, terutama tentang Taswirul Afkar dan koran-koran pertama NU itu, saya mulai merasa panitia Festival Dunia Santri 2026 diam-diam mewarisi watak panjenengan: sama-sama gemar membuat pekerjaan yang tampak merepotkan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Maka saya merasa, Kiai, Workshop Penulisan Jurnalistik dan Penulisan Kreatif dalam Festival Dunia Santri 2026 sesungguhnya sedang berjalan di jalan panjang yang pernah panjenengan buka lewat Taswirul Afkar—jalan berpikir, jalan percakapan, dan jalan keberanian membaca zaman.

Sebab workshop kepenulisan bagi kami bukan semata-mata pelajaran menulis berita, melainkan ikhtiar agar santri kembali belajar memandang kenyataan dengan lebih jernih: membedakan mana informasi dan mana kegaduhan, mana ilmu dan mana kemarahan yang kebetulan diberi kuota internet.

Dan tampaknya panjenengan sudah memahami semua itu jauh sebelum orang mengenal istilah “media massa” atau “ruang publik.” Panjenengan sadar betul: bila santri tidak menulis dirinya sendiri, maka orang lainlah yang akan menuliskan pesantren dengan sudut pandang mereka sendiri.

Karena itulah agenda Workshop Jurnalistik dan Penulisan Kreatif itu kami mulai pada 19 April 2026 di Pondok Pesantren Dar el-Fikr, Depok, Jawa Barat.

Sebelum melangkah lebih jauh, Kiai, izinkan saya melalui surat ini berkisah tentang Pondok Pesantren Dar el Fikr. Pesantren ini didirikan pada tahun 2012, bermula dari sesuatu yang sangat sederhana: teras rumah pengasuhnya sendiri, Kiai Hadi Hadiatullah, seorang santri, aktivis, sekaligus pencari ilmu yang lahir di Sukabumi, keturunan Banten yang menghabiskan masa mudanya dengan berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain demi menimba ilmu agama dan merawat sanad keilmuan pesantren.

Pada masa-masa awal itu, jumlah santrinya hanya dua orang. Belum ada asrama, belum ada aula, bahkan belum ada pengeras suara yang kadang suaranya lebih lantang daripada isi pengajiannya.

Kedua santri itu tinggal bersama sang kiai, belajar dari teras rumah yang sederhana—sebuah ruang yang lebih banyak dipenuhi kesunyian, kesabaran, dan kesungguhan belajar daripada fasilitas yang serba ada.

Dan mungkin memang begitulah pesantren tumbuh, Kiai: bukan dari proposal tebal atau baliho besar, melainkan dari kesabaran seseorang mengajarkan huruf-huruf hijaiyah kepada orang-orang yang datang dengan niat belajar, perlahan, dalam suasana yang dijaga adabnya seperti menjaga sesuatu yang sangat rapuh namun berharga.

Dalam memulai langkahnya di Kelurahan Serua, Kiai Hadi tidak lupa menempuh adab seorang pendatang yang hendak membuka majelis: berpamitan kepada para sesepuh desa, sowan kepada para guru mengaji, serta memohon restu dari mereka yang lebih dahulu menjaga cahaya ilmu di kampung itu. Tidak ada langkah yang tergesa, sebab dalam tradisi pesantren, keberkahan sering kali lebih dekat kepada ketawadhuan daripada kecepatan.

Bahkan hingga kini, masjid yang beliau dirikan pun tidak digunakan untuk salat Jumat, sebagai bentuk kehati-hatian dan penghormatan terhadap masjid-masjid lain yang telah lebih dahulu menjadi pusat jamaah. Di situ, pesantren tidak dibangun sebagai penanda kuasa, melainkan sebagai ruang kecil yang lahir dari adab: adab kepada guru, kepada masyarakat, dan kepada tradisi yang telah lebih dulu hidup di tanah itu.

Yang menarik, meskipun telah banyak mengaji kitab dan menimba ilmu dari para masyayikh, Kiai Hadi tidak tergesa-gesa naik mimbar atau mengejar ketenaran. Ia lebih memilih jalan yang pelan dan sunyi: mengajar dengan sabar, mendampingi santri satu per satu sebagaimana tradisi para kiai yang lebih mementingkan keberkahan ilmu daripada gegap gempita pengakuan. Sebab dalam pandangan beliau, menjadi alim itu bukan soal tampak alim di mata orang, melainkan soal bagaimana ilmu itu benar-benar meresap, membentuk laku, dan hidup dalam keseharian—sesuatu yang tidak selalu terlihat dari panggung, tetapi terasa dalam keteduhan sikap dan keteguhan adab.

Hari-hari ini kita hidup di zaman ketika seseorang baru selesai beberapa potong pengajian sudah berani tampil seperti ahli segala hal—cukup bermodal mikrofon, sorban besar, sedikit pencahayaan dramatis, lalu kutipan-kutipan hikmah yang kadang lebih rajin diedit daripada dipahami.

Tinggalkan Balasan