Kiai yang saya takzimi,
Surat ini akhirnya saya tulis sebagai kelanjutan dari Surat Pertama yang telah dimuat di portal duniasantri.co pada 12 Mei 2026.

Kiai, sebelum lebih jauh bercerita tentang Festival Dunia Santri 2026, izinkan saya menyampaikan satu hal penting terlebih dahulu: bahwa jejaring duniasantri lahir dari kegelisahan sejumlah orang baik yang tumbuh di lingkungan pesantren, maupun dari mereka yang meyakini bahwa dunia santri tidak cukup diwariskan hanya dari mulut ke mulut, melainkan juga perlu dicatat, ditulis, dan dipertukarkan melalui ruang-ruang literasi yang lebih luas dan terbuka.

Menyaksikan teman-teman di duniasantri.co menerima, menyeleksi, lalu menerbitkan tulisan-tulisan santri dari berbagai daerah di Indonesia, membuat saya sulit berpaling dari jejak pemikiran panjenengan, Kiai, ketika bersama KH Mas Mansur dan KH Ahmad Dahlan merintis Taswirul Afkar di Surabaya pada tahun 1918. Kelak, forum itu juga melibatkan Mangun dari Budi Utomo dan sejumlah anak-anak muda Bumiputera lainnya.
Di tengah masa penjajahan, ketika sebagian besar rakyat Bumiputera bahkan masih sulit mengakses pendidikan modern, panjenengan justru membuka ruang agar anak-anak muda pesantren belajar berdiskusi tentang agama, kebangsaan, pendidikan, hingga masa depan umat Islam dan tanah air yang waktu itu bahkan belum bernama Indonesia.
