Al-Qur’an Berjalan
Oleh masyarakat, KH Muntaha Al Hafidz dikenal sebagai sosok “Al-Qur’an Berjalan”. Lelaki yang semasa hidupnya akrab disapa Mbah Mun ini lahir di kaki Gunung Bismo, Desa Kalibeber. Mbah Mun (1912-2004) adalah putra ketiga dari KH Asy’ari bin Kiai Abdurrahim bin Kiai Muntaha bin Nida Muhammad.

Mbah Muntaha menamatkan hafalan Al-Qur’an pertama kali kepada Kiai Utsman saat ia mengaji di Pondok Pesantren Kauman Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah. Tidak cukup kepada satu guru, ia meneruskan pendidikan Al-Qur’an kepada mahaguru Al-Qur’an Nusantara, yaitu KH Munawwir di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Di sana, ia tidak saja mengulang hafalannya, tetapi semakin mendalami keilmuannya dalam bidang Al-Qur’an, seperti ilmu qiraat sab’ah.
Setelah menyusuri perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam, napak tilas ini kemudian berakhir di kompleks Maqbaroh KH Muntaha atau PPTQ Al Asy’ariyah 2 di Desa Deroduwur. Di kompleks yang berada di lereng Gunung Bismo inilah Mbah Mun dan keluarga dimakamkan.
Gemuruh suara jamaah melantunkan kalimat thoyyibah, tahlil, dan ayat-ayat Al-Qur’an memenuhi Aula Maqbaroh. Pembacaan Yasin dan Tahlil telah berulang kali dipanjatkan oleh kelompok peziarah yang memasuki area makam secara silih berganti.
