Filsafat Ilmu Nahu, Ilmu Keislaman yang Hampir Hilang

‌الضمير ‌الواقع ‌فى ‌محل ‌جر بحرف الجر لا يصح العطف عليه إلا بتكرار حرف الجر

Artinya: “Dlamir (muttashil) yang kedudukannya jar gara-gara kemasukan huruf jar tak bisa dijadikan Ma’thuf Alih, kecuali jika ada pengulangan huruf jar dilafadz ma’thufnya (lafadz yang diikutkan pada lafadz sebelumnya dengan menggunakan perangkat huruf athaf).” (at-Tibyan fi Qawaid an-Nahwi Wa Taqwim al-Lisan).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertanyaan terakhir adalah apa faedahnya mempelajari fan ilmu ini? Kenapa harus belajar ushul an-nahwi? Maka jawabannya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam as-Suyuti:

وفائدته التعويل في إثبات الحكم على الحجة والتعليل والارتفاع عن حضيض التقليد إلى يفاع الاطلاع على الديل، فإن المخلد إلى التقليد لا يعرف وجه الخطأ من الصواب، ولاينفك في أكثر الأمر عن عوارض الشك والارتياب

Artinya: “Fasdahnya mempelajari ilmu ushul nahwi adalah membantu menghadirkan hujjah, alasan yang kuat dalam menetapkan sebuah hukum; menghilangkan kebiasaan taqlid menuju pengetahuan yang tinggi. Karena orang yang selalu taqlid tidak mampu untuk membedakan antara yang salah dan yang benar dan selalu berada dalam keraguan.” (al-Iqtirah fi Ushul an-Nahwi).

Terakhir, saya ingin mengenalkan beberapa nama kitab yang khusus membahas seputar ilmu ushul nahu. Di antaranya adalah kitab al-Iqtirah fi Ushul an-Nahwi karya Imam as-Suyuti, kitab (Ushul NahwiJamiah al-Madinah (dua jilid) disusun oleh Jamiah al-Madinah al-Alimiyah, kitab Luma’ al-Adillah karya Abu al-Barakat al-Anbari dan kitab al-Khashaish kepunyaan Imam Ibnu al-Jinni.

Semoga tulusan ini bermanfaat. Aamiin. Fa al-Yata’ammal.

Tinggalkan Balasan