Hujan pun turun dengan ritme melukis rindu. Aku dan gadis cantik itu saling tatap. Matanya seperti penuh anggur yang bisa memabukkan. Aku bisa melihat langsung wajahnya yang begitu rupawan. Sebelumnya, aku hanya melihatnya dari balik jendela kaca saat hujan turun dengan jarak beberapa meter, sehingga wajahnya tak terlalu jelas oleh pandangan mataku. Namun kali ini, aku bisa melihat wajahnya secara jelas karena berdekatan dengannya. Aroma tubuhnya begitu harum.
Aku mulai terbius oleh kecantikannya. Aku mendekat dan aku diajak untuk memasuki hutan. Aku terus mengikutinya, sampai kemudian, aku melihat air terjun. Airnya begitu jernih. Sejuk. Aku juga menemukan sebuah taman dan kebun anggur. Terdapat bangunan indah layaknya vila megah di tengah hutan.

“Apakah kau suka tempat ini?” tanya gadis itu.
“Tentu saja,” jawabku singkat sambil mengagumi tempat itu.
“Di sini tidak ada lagi kesedihan. Di sini hanya ada kenikmatan,” ucapnya.
“Kau mirip sekali dengan kekasihku. Tinggallah bersamaku di sini. Kau akan mendapat segala kenikmatan dunia,” sambungnya. Tawaran itu seperti mimpi.
“Benarkah itu?” tanyaku memastikan.
“Aku tidak pernah main-main,” ucapnya.
Gadis itu menatapku. Seringainya tajam. Dia menatapku seperti seekor hewan buruan yang siap diterkam. Di balik tangannya, ada sebuah pisau tajam berukuran sedang siap dihunuskan. Suasana yang sebelumnya sejuk berupa menjadi pengap. Dadaku berdebar tak karuan. Matanya penuh kebencian.
“Jangan katakan kau akan membunuhku. Katamu aku mirip dengan kekasihmu, mengapa kau bertindak kejam seperti serigala betina?” tanyaku gugup.
“Aku adalah penyebab kematianmu. Maka kau harus kubunuh.”
Aku berusaha menyelamatkan diri darinya, dengan berlari sekuat-kuatnya. Berlari menuju ke tepi hutan untuk terbebas dari kejarannya. Sampai kemudian, aku melihat ibu sedang mencariku dan kami pulang.
ilustrasi: 1stdibs
