Gadis Penembus Hujan

Aku mulai memikirkan cara untuk memecah kesunyian saat berada di rumah, ketika sedang diguyur hujan berjam-jam.

Aku mulai mencari cara untuk tidak kedinginan, dengan menyeduh kopi hitam campur sedikit gula. Cara itu membuatku sedikit lebih baik. Namun, hal itu tidak bisa menghindarkanku dari kebosanan. Aku sudah bosan dengan rak-rak buku yang isinya sudah aku baca berulang-ulang kali. Betapa membosankannya harus melihat tiang-tiang penyangga ruangan. Aku juga sudah bosan menatap kaca jendela melihat hujan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meskipun begitu, aku tetap melihat hujan di balik jendela kaca. Sampai kemudian aku melihat sesosok gadis yang sedang diguyur hujan di balik kabut-kabut tipis dan pepohonan yang rindang. Setiap hujan gadis itu akan menampakkan diri. Ketika hujan telah reda, ia menghilang di balik kabut-kabut tipis itu.

Aku tidak tahu, gadis itu berasal dari mana. Siapa namanya. Kemunculannya hanya ketika ada hujan turun. Aku mendengar cerita dari orang-orang, bahwa gadis yang aku lihat ketika hujan itu sebenarnya adalah arwah gadis yang malang nasibnya.

Dari cerita orang, dulu ada seorang gadis yang terpaksa harus menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Kemudian, gadis itu kabur dari rumah dan menemui kekasihnya. Gadis itu sudah ditunangkan oleh pria kaya raya tuan tanah dari desa seberang. Namun, gadis itu menolak karena dia tidak mencintainya. Alhasil, gadis itu menemui kekasihnya dan mengajaknya kawin lari. Namun, sialnya, kekasihnya menolaknya karena belum siap. Kekasihnya malah menganjurkan gadis itu untuk menikah dengan pria pilihan orang tuanya.

“Kau adalah kepunyaan orang tuamu. Kau bisa hidup dengan layak, jika menikah dengan tuan tanah itu,” ucap kekasihnya.

Gadis itu diusir oleh kekasihnya. Lalu ia pergi dengan perasaan hancur. Sebenarnya kekasihnya tidak benar-benar mencintainya. Ia sudah tertambat dengan gadis lain yang lebih cantik dan lebih kaya darinya. Gadis itu hancur sehancur-hancurnya. Ia menyusuri jalan dan memilih menembus hujan di bawah petir yang menggelegar. Lebih dari itu, ia tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat. Terus berjalan. Tiba-tiba berhenti di sebuah jembatan di atas sungai yang mengalir deras. Ia memilih jalan ini, karena menurutnya tidak ada jalan lain ketika seorang perempuan telah terbuang. Ia memanjat sebuah pagar jembatan, kemudian menjerit sekeras-kerasnya, seraya terjun dari jembatan itu.

Memang benar, hujan dan patah hati adalah perpaduan yang menyakitkan tiada tara.

***

Hujan mengguyur dari pagi sampai sore hari. Aku melihat, pohon-pohon, pagar rumah, bunga-bunga di halaman rumah basah kuyup. Hari mulai gelap. Mendung masih menggumpal menggantung di langit. Sementara itu, suara selokan rumah masih mengalir deras. Atap-atap seperti diketuk. Suara saluran air pun masih bergemuruh. Hujan masih turun dengan ritme sedang.

Ibu muncul dari arah dapur. Ia membawa kudapan hangat yang ditaruh di meja belajarku, memandangiku dengan penuh perasaan, sambil merapikan tempat tidurku yang agak berantakan. Matanya menatapku dengan penuh kasih sayang. Ia melihat mataku menatap ke luar jendela. Tempias air hujan yang menempel di kaca membuat pandanganku sedikit kabur.

Tiba-tiba gadis penembus hujan itu muncul kembali. Wajahnya pucat. Rambutnya hitam sepundak. Gadis itu menatapku dengan tatapan menyedihkan. Seketika, aku mulai digelayuti perasaan gentar saat matanya menatapku.

Semakin lama aku menatapnya, aku melihat bola matanya berubah menjadi merah kebiru-biruan, mengalir darah dari kedua bola matanya. Darah itu terus mengalir bersama air hujan. Semakin lama ia semakin menyeramkan. Wajahnya hancur dipenuhi belatung dan nanah. Aku pun tak kuasa menahan itu semua. Aku menjerit sejadi-jadinya. Ibuku yang berada di belakangku sontak kaget dengan tingkah lakuku.

Tinggalkan Balasan