Garam Berjampi dari Pak Kiai

Akhirnya ia tak jadi masuk ke rumah. Dengan alasan punya keperluan lain, ia pamit dan pergi lagi. Mungkin teman saya itu salah seorang yang memiliki kelebihan bisa melihat atau mendeteksi keberadaan makhlus halus. Kita tahu, banyak orang yang memiliki kelebihan seperti itu, lebih-lebih di lingkungan pesantren. Saya tergolong yang bukan.

Saya, meskipun yakin bahwa makhluk halus itu memang ada karena keberadaannya telah disebutkan dalam al-Quran, tak pernah dan tak ingin bersinggungan dengan masalah-masalah seperti itu, hal-hal yang berbau kegaiban, supranatural, roh-roh halus, klenik, dan semacamnya dan sebagainya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Begitulah, saya cuek saja, tak mau ambil pusing soal-soal begituan ketika memutuskan untuk meninggali rumah sewa itu. Bagi saya, asal meninggali suatu tempat dengan hati yang bersih dan niat yang tulus, semuanya akan baik-baik saja.

Nah, justru saya harus berurusan dengan makhluk halus itu ketika suatu hari saya masuk rumah membawa garam yang telah dijampi-jampi oleh pak kiai. Ceritanya, suatu hari saya pulang kampung, ke Banyuwangi, menjenguk ibu yang sedang sakit. Saat itu ada pak kiai yang sedang mengobati ibu saya. Pak kiai ini adalah rekannya kiai pengasuh pesantren dekat rumah saya saat belajar di Mesir.

Saat itulah, saya terlibat obrolan dengan pak kiai ini. Kami mengobrol tentang banyak hal, sampai kemudian pak kiai menyinggung tentang makhluk-makhluk halus atau dedemit yang bercokol di sekitar rumah sewa saya itu, persis seperti yang digambarkan teman saya yang orang Bali itu. Entah dari mana pak kiai tahu.

Khawatir para lelembut itu bisa mengganggu, tanpa saya minta, pak kiai membekali saya dengan segenggam garam yang telah diurapi dengan doa-doa. Begitu sampai kembali ke Bali, saya diminta menaburkan butiran garam mengelilingi rumah, dimulai dari pojok kanan belakang. Dan itulah hal pertama yang saya lakukan saat saya tiba kembali di rumah sewa itu. Entah kenapa saya harus melakukan hal-hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.

Namun apa yang terjadi? Baru berdiri di pojok kanan belakang rumah, dan menabur beberapa butir garam berjampi itu, angin sepoi-sepoi terasa meniup lembut tengkuk, lalu merinding menjalar ke sekujur tubuh. Dalam kondisi seperti itu, saya memaksanakan diri untuk mengelilingi rumah, menaburinya dengan butiran garam.

Tinggalkan Balasan