Garam Berjampi dari Pak Kiai

Sejurus kemudian, tubuh saya seperti menjadi palagan, medan pertempuran antara dua kekuatan. Kekuatan setan dan kekuatan doa. Mula-mula kulit muka terasa menebal, dan makin terasa tebal, dan mengeras. Lalu mulut, dan rahang, bergerak sendiri tak beraturan, tak berkesuaian, ke kanan dan ke kiri, naik dan turun, tanpa bisa dikendalikan. Semakin saya mengendalikannya, semakin keras organ-organ tubuh itu melakukan perlawanan. Terasa muka saya sudah hilang bentuk, mencong ke sana-ke sini tak beraturan.

Langkah kaki juga tak terkendali. Bergerak ke kamar, melangkah ke dapur, sempoyongan ke ruang lain tanpa bisa dikontrol. Seperti penari yang sedang trance (kesurupan), saya berputar-putar tanpa arah, tanpa tujuan, dengan tangan yang meliuk-liuk di udara, kemudian mengambil apa saja, menjotos dan membanting apa saja. Bukan hanya wajah, seluruh tubuh terasa seperti hilang bentuk.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Itulah kondisi ketika saya harus berjuang melawan kekuatan asing yang hendak menguasai dan mengendalikan tubuh. Beruntung, di saat-saat kritis seperti itu, kesadaran saya tetap terjaga, sepenuhnya —belakangan saya tahu dari orang-orang pinter, tanpa kesadaran yang terus terjaga, saya bisa mati atau celaka karenanya. Wallalu a’lam.

Berkat kesadaran yang masih terjaga itu, saya teringat zikir yang pernah diajarkan ketika masih mondok: zikirlah dengan hatimu, dengan rasamu, dengan napasmu, sampai zikir itu melumuri seluruh pori-porimu, mengalir bersama aliran darahmu.

Pada momen itulah saya kemudian diam, tak berusaha melakukan perlawanan dengan mencoba mengendalikan seluruh anggota tubuh. Lalu diam, hening, suwung. Lalu, perlahan-lahan kekuatan asing itu pergi. Dan saya mulai bisa mengontrol tubuh.

Itulah momen di mana saya pernah merasakan berkah kekuatan zikir.

Tinggalkan Balasan