Gerimis semakin menderas ketika mobil Avanza putih itu memasuki kawasan perbatasan Blitar-Malang. Langit pun gelap dengan sesekali ditingkahi suara gemuruh dan petir yang menghantam petala langit. Udara di dalam mobil semakin bertambah dingin oleh tiupan angin yang menerobos masuk melalui jendela yang terbuka sebagian.
Gus Dan dan Ning Aina tengah mendengkur lirih, mungkin terbuai oleh mimpi ditemani lagu selawat yang mengalun lembut. Kiai Farid pun mulai terkantuk-kantuk. Ia duduk di samping Kang Rud yang tengah sibuk menyopir, menghindari kolam-kolam kecil yang tercipta di tengah jalan. Bu Nyai Atiqah memandang kedua anaknya yang terlelap itu, kemudian berganti memandangi sang suami yang kini mulai terlihat tua dan wajahnya semakin bertambah sejuk meneduhkan.

Kang Rud tak berani bertanya pada Kiai Farid ketika dihadapkan pada persimpangan jalan, karena gurunya itu telah tertidur. Sopir Kiai Farid itu akhirnya hanya mengandalkan google map untuk mencapai tujuan perjalanan. Namun, setelah jauh melewati persimpangan jalan, tak kunjung ditemukan ada tanda-tanda adanya pemukiman.
Mobil terus berjalan. Bukannya permukiman yang ditemukan, tiba-tiba mobil justru dihadang oleh jalan beraspal yang telah rusak. Gus Dan terbangun. Ia kucek matanya yang masih terasa lengket. Terlihatlah kanan-kiri jalan yang ditumbuhi rimbun pepohonan menjulang. Pemandangan itu membuat Gus Dan tenteram sekaligus ngeri.
Dan jalan yang dilalui itu semakin lama semakin gelap direngkuh sang malam. Hujan pun turun semakin deras. Pikiran Gus Dan semakin was-was. Sedangkan di belakang setir dia melihat Kang Rud tengah santai mengendalikan laju mobil.
“Di mana kita, Kang? Masih jauh?” tanya anak lelaki Kiai Farid itu. Aina, adik perempuannya yang juga tertidur, kini tergeragap bangun, kemudian bingung melihat suasana senyap di wilayah yang dilaluinya.
Suasana di mobil itu kemudian mulai riuh karena jalan beraspal yang dilalui telah berubah jadi medan berlumpur dan berlubang di sana-sini. Ning Aina adalah yang paling cerewet melihat keadaan yang tengah dihadapinya.
“Gimana sih, Bah? Masak rumah kiai teman Abah itu ada di tempat seperti ini?”
Kiai Farid pun terlihat bingung. Ucapan putrinya itu tidak ia tanggapi. Ia biarkan dirinya menjadi sasaran kekesalan Aina. Sejurus kemudian mobil berhenti di tengah jalan curam yang di kanan-kirinya hanya ada pepohonan. Dengan angkuhnya pepohonan itu menonton kebingungan rombongan Kiai Farid yang sedang tak tahu arah. Dari berbagai penjuru terdengarlah suara jangkrik dan binatang malam mulai bertingkah di tengah kegelapan.
Kiai Farid menajamkan pendengarannya ketika dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara azan. Rasa bimbang mendera pikirannya. Hendak melanjutkan perjalanan, namun kini mereka telah dihadang jalan berlubang dan berlumpur yang tidak diketahui di mana ujungnya. Hendak balik kanan pun rasanya tak mungkin karena telanjur jauh jalan yang telah mereka tempuh.
Alamat yang diberikan oleh Kiai Farid kepada Kang Rud menunjukkan masih berada jauh di wilayah selatan. Kiai Farid sendiri belum pernah menginjakkan kaki ke tempat tinggal temannya itu. Kang Rud merasa sangat bersalah karena tidak menanyakan dulu pada kiainya ketika hendak memasuki jalan ini. Namun apa hendak dikata, pengasuh pesantren mahasiswa itu juga belum pernah menginjakkan kaki ke tempat ini. Pertanyaannya hanya akan menghasilkan kesia-siaan. Kang Rud sendiri yang harus memutuskan jalan mana yang akan ditempuh, walau akhirnya kini ia terjerumus dalam kebingungan.
Perjalanan jauh ini bermula dari pertemuan Kiai Farid dengan Pak Kamilun saat menunaikan ibadah haji dua bulan yang lalu. Pak Kamilun merupakan teman mengaji kiai berpengaruh dari Yogja itu saat masih di pondok dulu. Pertemuan setelah perpisahan yang cukup lama itu membuat keakraban mereka saat masih sama-sama menuntut ilmu tumbuh kembali. Saat masih nyantri mereka adalah teman memasak, tentu saja keakraban itu tumbuh mengikis sekat yang membedakan keduanya, bahwa Kiai Farid adalah putra seorang kiai dan Pak Kamilun adalah putra seorang petani biasa.
Sebenarnya apabila hanya untuk silaturahmi haji, keluarga Kiai Farid meminta tidak usah terburu-buru, akan tetapi ada sesuatu hal yang mengharuskan untuk segera mendatangi kediaman teman mondoknya itu. Ceritanya, pada saat di tanah suci kemarin, mereka tengah berbelanja berdua. Sayang, Kiai Farid lupa tidak membawa uang. Untung saja Pak Kamilun mengantungi uang yang cukup untuk membeli barang itu. Akhirnya Kiai Farid meminjam uang pada Pak Kamilun. Kemudian karena kesibukan rangkaian ibadah haji yang begitu padat membuat Kiai Farid terlupa pada utangnya.
“Karena sama-sama tidak tahu, sebaiknya kita tanya pada orang di kampung ini. Kita lanjutkan perjalanannya sampai menemukan perkampungan,” titah Kiai Farid akhirnya.
“Kita tanya saja pada yang maha tahu, Bah,” gumam Gus Dan.
“Siapa Mas?” desis Ning Aina.
“Syaikh Google,” sahut putra Kiai Farid itu dengan suara lirih diiringi suara cekikikan.
“Nggak ada sinyal.”
Ternyata gurauan mereka didengar abahnya.
“Kalian ini ikut-ikutan juga mendewakan Google. Awas kalau ikut-ikutan orang-orang yang suka mengkafir-kafirkan sesama muslim itu. Sukanya takbir di mana-mana, bukannya untuk mengagungkan Allah, malah diri sendiri yang diagung-agungkan.” Kiai Farid mulai jengah mendapati tingkah anak-anaknya.
“Jangan suudzon dulu, Bah. Semalam saya berhasil membungkam mulut mereka itu di medsos. Jangan ragukan ke-aswaja-an putra jenengan ini,“ mahasiswa Tehnik Sipil semester tua bernama lengkap Ardan Arfakhsyad Muhammad Zabarjad itu tegas menepis keraguan abahnya.
“Tahu. Aku mengikuti pergerakan kalian di medsos,” sahut kiai pengasuh pesantren yang juga dosen bahasa Arab itu.
“Abah juga main medsos?” tanya Aina dengan mata membelalak. Bu Nyai Badriyah yang sedari tadi hanya mendengarkan kini tersenyum geli melihat keterkejutan anaknya.

“Awas kalau ikut-ikutan orang-orang yang suka mengkafir-kafirkan sesama muslim itu. Sukanya takbir di mana-mana, bukannya untuk mengagungkan Allah, malah diri sendiri yang diagung-agungkan.”
Jleb!
Harus seimbang antara takbir & traktir wkwwkwk