“Oh, apa?” balasnya ramah.
“Mengenai gazebo dan gayung batok di kamar mandi belakang rumah. Apa ada sesuatu di sana?”

“Oh, kamu dikasih tahu hal aneh-aneh ya sama anak-anak (para karyawan).”
Mahasiswa akhir itu hanya mengangguk. Namun, Andy menceritakan tentang batok kelapa itu. Tentang hidupnya dulu. Dan tentang bagaiman batok yang dulu dia gunakan sebagai celengan itu tetap utuh beserta isinya yang menjadi modal pertama usaha. Saat semua harta benda di rumah reotnya dulu terbakar hangus tak tersisa. Dan tiap kali dia menyambangi kamar mandi di belakang dan melihat batok itu, dia akan kembali sadar, bahwa tak ada kemewahan sejati selain hidup sederhana.
Jelas Mizan masih menyimpan pertanyaan. Namun sebelum hal itu dilontarkan, Andy sudah menjawab terlebih dulu. Kenapa harus di belakang, kenapa harus dibuat gayung, kenapa tidak disimpan lebih aman. Andy hanya berpikir, bahwa yang paling berharga di dunia ini adalah kehidupan itu sendiri. Bukan apa yang mereka miliki atau cari. Bukankah hanya dengan menjadi seperti air kita bisa memaknai segalanya. Dan gazebo itu adalah tempat paling tenang bila dijadikan tempat perenungan. Dan Mizan tak bisa menyanggah itu semua.
“Tapi kenapa tidak bapak ceritakan ke yang lain. Kalau begitu nama bapak akan tercoreng,” pemuda itu bertanya untuk kesekian kali.
“Tak apa, memang apa masalahnya dengan itu. Belajarlah untuk peduli dengan orang lain, namun tidak dengan omongan mereka,” kata pengusaha separo baya itu.
“Saya tahu semua omongan karyawan saya di belakang saya. Saya punya kemampuan membaca pikiran sejak lahir.”
” Iya, saya tahu bapak bukan orang seperti yang dibicarakan mereka. Karena saya juga bisa tahu orang dari warna aura yang mereka keluarkan.”
Lantas kedua pria itu terbahak bersama. Meski mereka berdua tak saling mengetahui, bahwa kedua kalimat terakhir mereka bukanlah bohong belaka.
